Minggu, 19 Oktober 2014

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

Dalam penulisan, kata dan struktur kalimat yang dibuat harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Dalam EYD terdapat beberapa hal yang diatur, di antaranya tentang penulisan huruf (kapital dan miring), kata, tanda baca, singkatan & akronim, angka & lambang bilangan, dan unsur serapan.

Penulisan huruf kapital biasanya terletak pada awal kalimat. Selain itu, huruf kapital dipakai pada ungkapan atau kata yang berhubungan dengan tuhan, kitab suci, dan agama. Huruf kapital juga digunakan untuk nama gelar kehormatan yang dimiliki seseorang, tetapi huruf kapital tidak dipakai pada gelar kehormatan tanpa disertai dengan nama orang. Misalnya : Dia baru saja pergi haji. Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai, contoh : van, der, bin, dan binti. Penulisan dengan huruf miring dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, atau surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia juga ditulis miring (dalam ketikan selain tulisan tangan).

Dalam penulisan kata, kata dasar menjadi satu kesatuan. Bila dua kata diberi imbuhan di awal dan akhir, penulisannya digabung seperti pertanggungjawaban. Kata ganti kepunyaan (ku, mu, kau) digabung dengan kata kerjanya, contoh : bukuku, kusapa, kauberi. Namun, kata sandang seperti si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Menggabungkan dua kata harus dipisah atau menggunakan “-“, kecuali untuk 47 kata pengecualian : acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa,belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam.

Singkatan dan akronim termasuk ke dalam bagian EYD. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik: dst., hlm, sedangkan yang terdiri atas dua huruf diikuti tanda titik pada setiap huruf: a.n., s.d. Akronim untuk nama diri gabungan huruf awal dengan gabungan suku kata dari deret kata ditulis berbeda. Gabungan huruf awal ditulis besar semua, sedangkan gabungan suku kata dari deret kata hanya huruf awalnya yang kapital. Contoh : ABRI dan Akabri.

Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor yang lazimnya ditulis dengan angka Arab atau angka Romawi. Penulisan angka ditulis dengan huruf jika dapat dinyatakan dengan satu-dua kata, kecuali jika bebrapa lambang bilangan dipakai secara berurutan. Jika pada awal kalimat, angka ditulis dengan huruf.

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain—baik dalam ataupun luar negeri—yang ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia. Untuk menyebutkan dan mengacu ke benda-benda di sekitarnya, setiap individu memiliki cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau perasaan. Hal inilah yang menjadi kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru dengan mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal baru itu.

Referensi :

http://id.wikipedia.org

Jumat, 10 Oktober 2014

Diksi (Pemilihan Kata)

Diksi merupakan pemilihan suatu kata yang tepat dan selaras. Terdapat beberapa fungsi diksi, di antaranya adalah untuk memberikan pengertian secara benar dan tidak salah paham kepada pendengar atau pembaca, mencapai target komunikasi yang efektif, dan mengisyaratkan gagasan/ide yang diekspresikan secara lisan. Dalam sebuah kalimat, diksi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Penggunaan diksi yang tidak tepat akan mengakibatkan kesalahpahaman. Diksi terdiri dari beberapa bagian elemen, yaitu fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans. Jika dilihat dari segi keterhubungan maknanya, diksi terdiri dari sinonim, antonim, polisemi, hiponim, hipernim, homonim, homofon, dan homograf.
Berikut merupakan keterangan dari bagian-bagian diksi :
1.      Fonem adalah suatu satuan terkecil dalam linguistik yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Bunyi merupakan bentuk dari fonem. Dalam bahasa Indonesia, bunyi [k] dan [g] merupakan dua bunyi dan arti yang berbeda, contoh : “cagar” dan “cakar”. Namun, dalam bahasa Korea, bunyi [k] dan [g] berada dalam satu alphabet Korea. Kemudian dalam bahasa Arab, hanya terdapat fonem [k].
2.      Silabel atau suku kata unit pembentuk kata yang tersusun dari satu fonem atau urutan fonem. Misal, Bahasa terdiri dari 3 suku kata yaitu ba-ha-sa.
3.      Konjungsi bisa disebut juga dengan kata sambung. Konjungsi merupakan suatu kata yang menggabungkan kata-kata atau kalimat-kalimat. Kata-kata yang termasuk ke dalam konjungsi : dan, atau, tetapi, supaya, walaupun, seperti, oleh karena, sehingga, bahwa, ketika, seandainya. Contoh penggunaannya dalam kalimat : Rani anak yang rajin, sedangkan kakaknya pemalas.
4.      Hubungan
5.      Kata benda atau nomina adalah kelas kata yang menyatakan semua benda, nama seseorang, tempat, dan segala yang dibendakan. Kata benda dibagi menjadi dua, yaitu benda yang konkret dan abstrak. Kata benda konkret untuk benda yang dapat dirasakan oleh panca indra manusia, sedangkan kata benda abstrak untuk benda yang hanya bisa dipikirkan atau semu. Contoh : pe + tinju = petinju. Kata tersebut menunjukkan kata kerja yang diberi imbuhan berubah menjadi kata benda orang. Ada pula yang disebut Nomina Majemuk, contohnya kaca + mata = kacamata, kaca dan mata memiliki arti yang berbeda tetapi ketika digabung membentuk kata benda yang memiliki arti baru.
6.      Kata kerja atau verba adalah kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, atau pengalaman. Kata kerja dalam suatu kalimat biasanya menjadi predikat. Kata kerja dibagi menjadi dua, kata kerja transitif dan kata kerja intransitif. Kata kerja transitif adalah kata kerja yang membutuhkan pelengkap, seperti : membuka (pintu). Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan pelengkap, seperti lari.
7.      Infleksi adalah perubahan bentuk kata yang menunjukkan berbagai hubungan gramatikal, seperti deklinasi nomina, pronomina, adjektiva, dan konjugasi verba.
8.      Uterans  
Diksi jika dilihat dari segi keterhubungan maknanya :
1.      Kata yang berbeda tetapi memiliki makna yang serupa disebut Sinonim. COntoh katanya adalah senang x bahagia, sedih x duka, dan lain-lain.
a.       Kakak senang  karena rapornya mendapat nilai tinggi.
b.      Santi bahagia mendapat bunga dari Ayahnya.
2.      Antonim adalah kebalikan kata. Misalnya jahat x baik, malas x rajin, kotor x bersih, dan masih banyak lagi.
a.       Baju kotor itu dicuci oleh Susi.
b.      Celana yang ia gunakan sangat bersih.
3.      Polisemi adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu. Misalnya adalah hak, beruang, mata, darah.
a.       Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk hidup.
Keterangan : Hak yang dimaksudkan adalah kewenangan atau kepunyaan.
b.      Hak sepatu wanita itu tajam sekali.
Keterangan : Hak yang dimaksud merupakan telapak sepatu pada bagian tumit.
4.      Hiponim disebut juga kata
5.      Hipernim disebut juga kata
6.      Kata yang memiliki makna yang berbeda, tetapi lafal dan ejaannya sama disebut Homonim. Misalnya adalah bulan, genting, bagi, rapat.
a.       Keadaan yang dihadapi sangat genting.
Keterangan : Keadaan yang sangat gawat.
b.      Genting retak itu perlu diperbaiki.
Keterangan : Atap.
7.      Homofon yaitu kata yang berbunyi sama tetapi memiliki ejaan yang berbeda. Contoh : bang x bank, rock x rok, masa x massa.
a.       Bang Randi sedang menyiapkan baju.
Keterangan : Nama tambahan seseorang.
b.      Rani menabung di Bank Mandira.
Keterangan : Tempat untuk menyimpan uang. 
8.      Homograf adalah suatu kata yang bunyi dan ejaannya berbeda. Contoh mental, apel, teras, keset, tahu.
a.       Kakak sedang makan tahu.
Keterangan : Jenis makanan.
b.      Ia tahu bahwa ada yang tidak beres.
Keterangan : Mengerti atau mengenali.

Referensi:
http://riska-krisma.blogspot.com/2013/04/contoh-kata-polisemi-homofon-homograf.html
http://id.wiktionary.org
http://id.wikipedia.org
http://disclamaboy.wordpress.com/2012/11/02/diksi-pengertian-dan-macam-macamnya/

http://irshansocialcommunity.blogspot.com/2012/11/contoh-sinonim-antonim-homonim-homofon.html

Jumat, 03 Oktober 2014

Ragam Tulisan dan Bahasa

Ragam adalah tingkah, laku, atau ulah. Ragam dalam bidang linguistik terbagi menjadi dua, yaitu ragam tulisan dan lisan. Ragam bahasa yg digunakan melalui media tulis, tidak terikat ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual adalah definisi dari ragam tulisan. Kemudian ragam lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terikat oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman.

Ragam tulisan dan lisan memiliki ciri masing-masing. Ragam tulisan memiliki ciri-ciri santun, memperhatikan ejaan yang sesuai dengan pedoman, mempergunakan kata-kata yang sudah dibakukan, dan efektif. Tanda baca dalam sebuah kalimat pun, perlu diperhatikan penggunaannya agar tidak mengandung arti ganda (ambigu). Kemudian ragam bahasa memiliki kebalikan dari ciri-ciri ragam tulisan, salah satunya adalah kalimat yang disampaikan pendek-pendek. Jadi kalimat sering terputus-putus dan tidak lengkap karena seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain sudah mengetahui maksudnya. Ciri lainnya adalah disampaikan secara langsung, tidak terikat ejaan yang telah disempurnakan, dan tidak efektif. Perbedaannya yang sangat jelas diantara keduanya yaitu pada media penyampaian dan kelengkapan strukturnya.

Dari ciri-ciri yang disebutkan di atas, setiap ragam memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan media tulis, ragam tulisan bisa menjadi bukti otentik karena, biasanya, sumber atau referensi penulis dicantumkan sehingga pembaca bisa merujuk langsung pada sumbernya. Selain itu, tulisan dapat disajikan dengan lebih matang dan “bersih”. Bersih yang dimaksudkan adalah tulisan terhindar dari kata-kata selipan tidak penting—yang biasa terjadi pada ragam lisan—seperti contohnya kata “eehh”. Lalu tulisan akan lebih sulit dimanipulasi.

Selanjutnya kelebihan dari ragam lisan adalah berlangsung cepat dan berlangsung tanpa alat bantu. Dengan lisan pula, kesalahan yang telah diucapkan bisa langsung diperbaiki baik oleh si pembicara atau si pendengar. Ragam lisan lebih ekspresif, oleh karena itu perbincangan dapat dilakukan dengan gestur tubuh atau mimik muka untuk lebih meyakinkan perkataan yang dimaksudkan.

Dalam penulisan, biasanya terdapat beberapa kesalahan, baik itu penggunaan kata ataupun ejaan yang tidak baku. Kesalahan dalam memberikan informasi juga menjadi salah satu kelemahan ragam tulisan, dikarenakan tulisan tidak dapat langsung diperbaiki. Ragam tulisan memerlukan media dalam penyampaiannya, seperti kertas, alat tulis, atau alat ketik. Kelemahan lainnya adalah tulisan berlangsung lambat dan tidak dapat menggunakan bahasa tubuh seperti ragam lisan.

Selain ragam tulisan, ragam lisan memiliki kelemahannya tersendiri. Kata-kata selipan tidak penting menjadi salah satu kekurangannya. Dasar hukumnya pun lemah karena bahasa lisan dilakukan secara instan dan tidak didasari pemikiran kata yang benar, oleh karena itu ragam lisan tidak dapat menjadi bukti otentik.

Kesimpulannya, Ragam adalah tingkah, laku, atau ulah. Ragam tulisan memiliki ciri-ciri santun, memperhatikan ejaan yang sesuai dengan pedoman, mempergunakan kata-kata yang sudah dibakukan, dan efektif. Ragam lisan disampaikan secara langsung, tidak terikat ejaan yang telah disempurnakan, dan tidak efektif.

Referensi :
http://kbbi.web.id
http://azul-jellyfish.blogspot.com/2012/04/ragam-bahasa-lisan-dan-bahasa-tulis.html
https://id-id.facebook.com/menata.akhlaq/posts/510239019047614

Minggu, 28 September 2014

FUNGSI BAHASA

Dalam kehidupan, setiap makhluk hidup melakukan komunikasi dengan bahasa yang dimengerti satu sama lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama dan berinteraksi. Bunyi yang arbitrer disini dapat diartikan sebagai suatu bunyi atau pola yang tersusun secara berurutan dan sistematis. Huruf-huruf yang disusun secara berurutan akan menjadi sebuah kata, sedangkan kata-kata yang disusun secara sistematis akan membuahkan kalimat yang memiliki arti. Di lain sisi, bahasa tidak selalu tentang apa yang diucapkan, melainkan bisa melalu isyarat, bahasa tubuh, ataupun sandi-sandi. Menurut fungsinya, bahasa dibagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah sebagai alat menyatakan ekspresi diri, integrasi dan adaptasi sosial, dan kontrol sosial.

Selain sebagai media berinteraksi, bahasa bisa menjadi alat untuk mengekspresikan diri. Ekspresi yang tidak dapat dipahami akan terjadi komunikasi yang tidak sempurna. Tujuan dari penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi adalah agar kita dapat dipahami oleh orang lain. Sebagai contoh, seorang bayi akan menangis jika dia lapar atau membutuhkan sesuatu, seseorang akan mengeluarkan air mata jika sedang bersedih, begitupun dengan ekspresi-ekspresi lainnya. Senyum atau tertawa menyatakan senang dan cemberut menyatakan marah. Penyampaian ekspresi diri tidak melulu berupa pembicaraan, tetapi bisa dapat berupa karya seni seperti lagu, puisi, dan drama. Tujuan dari hal ini agar lawan bicara mengerti suasana hati dan pikiran yang disampaikan.

Pada dasarnya, seseorang menggunakan bahasa yang dipakai didaerahnya. Namun, apabila orang tersebut pindah dari daerahnya ke suatu tempat yang bahasanya berbeda, mau tidak mau orang itu harus beradaptasi dengan lingkungan baru agar tercipta komunikasi. Komunikasi tidak akan terjadi jika salah satu pembicara/pendengar tidak mengerti apa yang saling disampaikan. Hal ini juga akan mengakibatkan miskomunikasi (kesalahpahaman).

Ada pula kontrol sosial sebagai salah satu fungsi bahasa. Salah satu contoh dari ini, yaitu dakwah, pidato, orasi ilmiah, atau acara-acara diskusi. Dengan fungsi ini, hasilnya akan membuahkan pemikiran, sifat, dan tindakan baru kepada pendengarnya. Baik atau buruknya hasil pemikiran tersebut tergantung dari apa yang disampaikan pembicara. Contoh lain yang sederhana dari alat kontrol sosial ini juga sebagai peredam amarah. Dengan menuangkan rasa kesal dalam bentuk tulisan, amarah akan berangsur berkurang.

Dengan demikian, bahasa adalah hal yang utama dalam berkomunikasi. Fungsi bahasa meliputi sebagai alat adaptasi, kontrol sosial, dan ekspresi diri. Adapun ciri-ciri penanda bahwa suatu bahasa dapat dikatakan sebagai bahasa Negara. Ciri-cirinya adalah 1.) bahasa resmi kenegaraan, 2.) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, 3.) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan 4.) bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern. Tanpa salah satu dari ciri-ciri tersebut, bahasa tidak dapat dikatakan berkedudukan sebagai bahasa Negara.

Referensi :
http://www.id.wikipedia.org
http://www.kbbi.web.id
https://girlycious09.wordpress.com/tag/kontrol-sosial/
http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/29/bahasa-sebagai-alat-kontrol-sosial-383751.html
http://lidyadewi.wordpress.com/2012/10/02/bahasa-indonesia-sebagai-alat-ekspresi-diri/
http://vhi3y4.wordpress.com/2010/02/27/fungsi-bahasa-sebagai-alat-komunikasi/

Selasa, 01 Juli 2014

Bekerjasama dalam Team (Kelompok) atau Teamwork

Nama : DEFITA ARYANI
Kelas : 2KA01
NPM : 11112802

TOU4 : Bekerjasama dalam Team (Kelompok) atau Teamwork

Manusia adalah makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya. Hal itu ditandai dengan sifat manusia sejak dahulu kala yang selalu hidup nomaden secara berkelompok. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kelompok adalah kumpulan orang atau sesuatu. Horton menyatakan bahwa kelompok adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Menurut Horton terdapat beberapa karakteristik dari kelompok, yaitu
  1. Kumpulan orang. Hal ini menyatakan bahwa kelompok bukan individu maupun masyarakat. Kelompok itu sendiri akan terdiri dari dua orang atau lebih.
  2. Memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya. Anggota kelompok menggabungkan diri harus dengan kesadarannya sendiri dan dengan niatan yang disengaja sehingga mereka memiliki kesadaran akan keanggotaannya.

Sebelum terbentuknya sebuah kelompok, ada lima tahap dalam pembentukan kelompok :
  1. Tahap pembentukan (forming).
    Tahap ini merupakan dimana para anggota kelompok mendekatkan diri satu sama lain.
  2. Tahap timbulnya konflik (storming)
    Tahap satu dari konflik intrakelompok. Para anggotanya menerima keberadaan kelompok tersebut, tetapi terdapat penolakan terhadap batasan-batasan yang diterapkan kelompok terhadap setiap individu.
  3. Tahap normalisasi (norming)
    Dalam tahap ini terdapat sebuah rasa yang kuat akan identitas kelompok dan persahabatan.
  4. Tahap berkinerja (performing)
    Pada titik ini struktur telah sepenuhnya fungsional dan diterima. Energi kelompok telah berpindah dari saling mengenal dan memahami menjadi mengerjakan tugas yang ada.
  5. Tahap pembubaran (adjourning)
    Kelompok mempersiapkan diri untuk pembubaran.

Tiap individu atau tiap unit memang memiliki tujuan masing-masing. Akan tetapi, dalam teamwork yang efektif, tujuan masing-masing kelompok akan muncul sebagai target bersama dan menimbulkan ketergantungan satu dengan yang lainnya secara positif.
Secara umum, untuk membangun teamwork yang solid dibutuhkan beberapa syarat :

  1. Jangan bersikap individualistis
    Dalam suatu tim yang solid, kita tidak boleh menunjukkan ego masing-masing. Setiap anggota tim harus keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam kesatuan tim. Adanya kesediaan untuk saling menghormati, saling memaafkan saling menerima kekurangan, dan memberi pelayanan satu sama lain.
  2. Berikan kontribusi
    Keberhasilan suatu teamwork hanya bisa dicapai karena adanya kontribusi dari setiap individu yang terlibat.
  3. Bersikap fleksibel
    Dalam suatu tim, kita harus mampu bersikap fleksibel. Ada kesediaan untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan.
  4. Komunikasi
    Ketika seluruh anggota tim tidak mementingkan diri sendiri, mampu bersikap fleksibel dan beradaptasi satu sama lain, maka tim mampu bersatu dalam kebersamaan. Untuk menjadi tim yang kuat, satu sama lain harus saling mengerti, saling memahami, saling memuji.
  5. Komitmen
    Setiap anggota harus memberikan komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan perusahaan.
  6. Kepercayaan dan Saling Menghargai
    Dengan saling percaya dan saling menghormati, tidak ada musuh yang dapat mengalahkan kita.
  7. Patuhilah Pemimpin
    Dalam kerja tim, anggota tim harus bersedia mematuhi pemimpinnya. Meski demikian, ini tidak berarti pemimpin harus menjadi tiran, yang hanya memaksakan kehendak, dan anggota hanya sebagai hamba saja. Pemimpin dan pemain adalah partner, dengan peran yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi, Terjemahan Diana Angelica. Jakarta : Salemba Empat.

Soeroso, Andreas. 2008. SOSIOLOGI 2 SMA KELAS XI. Quadra.

Subekti, "Pengertian dan Karakteristik Kelompok”, diakses dari http://subekti13.wordpress.com/2013/04/23/pengertian-dan-karakteristik-kelompok/, pada tanggal 2 Juli 2014 pukul 01.05.


“Kamus Besar Bahasa Indonesia”, diakses dari http://kbbi.web.id/, pada tanggal 2 Juli 2014 pukul 01.03.

Rabu, 14 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

Nama   : DEFITA ARYANI
Kelas   : 2KA01
NPM   : 11112802
TOU 3 : Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keputusan adalah segala putusan yang telah ditetapkan. Sedangkan pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan secara sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta, dan penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi. Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari  pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
1.      Intuisi
Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. 

2.      Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.

3.      Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.

4.      Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.

5.      Logika
Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan

Jenis Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus  dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.

Secara garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.

Dalam mengambil keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan  didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.
Pengambilan keputusan berdasarkan 2 metode, yaitu tradisional, dan modern. Sedangkan, pengambilan keputusan secara garis besar ada 2, yaitu rutin, dan tidak rutin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yaitu :
1.      Internal Organisasi seperti ketersediaan dana, SDM, kelengkapan peralatan, teknologi dsb
2.      Eksternal Organisasi seperti keadaan sosial politik, ekonomi, hukum,dsb.
3.      Ketersediaan informasi yang diperlukan
4.      Kepribadian dan kecapakan pengambil keputusan,

Implikasi manajerial :
1.      Gaya pengambilan keputusan
2.      Gaya Direktif (Pengarahan)
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan ambiguitas/ketidakjelasan yang rendah dan cara berpikirnya yang rasional 
3.      Gaya Analitis
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas/ketidakjelasan dan cara berpikirnya rasional

4.      Gaya Konseptual
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi untuk ambiquitas /ketidakjelasan dan cara berpikir intuitif yang tinggi juga

5.      Gaya Perilaku
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang rendah untuk ambiquitas/ketidakjelasan dengan cara berpikir intuitif yang tinggi 


DAFTAR PUSTAKA
Anzizhan, Syafaruddin. 2004. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Jakarta : Grasindo.

Idviosa, "Dasar Pengambilan Keputusan", Cari Tahu, diakses dari http://idviosafrisca.blogspot.com/2013/04/dasar-pengambilan-keputusan.html, pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 22.37.

Samuel, "Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi", Idegue, diakses dari http://samuel-idegue.blogspot.com/2013/04/definisi-dan-dasar-pengambilan.html, pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 22.37.

“Kamus Besar Bahasa Indonesia”, diakses dari http://kbbi.web.id/, pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 22.33.


Selasa, 15 April 2014

Kepemimpinan

Nama   : DEFITA ARYANI
Kelas   : 2KA01
NPM   : 11112802
TOU 2 : Kepemimpinan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan diambil dari kata pimpin yang artinya menuntun atau membimbing. Menurut buku Kepemimpinan Dalam Organisasi (1998:2), kepemimpinan merupakan perilaku dari aktivitas-aktivitas suatu kelompok yang dipimpin oleh seorang individu untuk suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal). Jadi, kepemimpinan adalah cara menuntun atau memimpin kelompok individu. Dalam organisasi, terkadang ketika mengalami kegagalan atau keburukan, orang yang pertama kali disalahkan adalah pemimpin. Kepemimpinan seorang ketua atau pemimpin akan dipertanyakan. Tetapi sebaliknya, jika organisasi tersebut sukses atau mengalami peningkatan, orang lupa dengan keberhasilan pemimpin untuk membimbing. Oleh karena itu, peran seorang pemimpin dalam sebuah organisasi sangatlah penting untuk menggerakan anggota-anggota organisasinya.
Menurut pemikiran yang dikembangkan oleh Lewin, Lippitt, dan White terdapat tiga gaya atau tipologi kepemimpinan, di antaranya :
i.                    Otokratik
Kepemimpinan ini menggunakan paksaan kepada anggotanya dan bersifat menghukum. Anggotanya hanya dianggap sebagai alat pesuruh. Kebanyakan, tujuan pribadi pemimpin menjadi tujuan organisasi. Pemimpin menganggap organisasi merupakan hak milik sendiri, bukan untuk bersama. Pemerintahan ini pernah terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru pemerintahan bapak Soeharto yang menjabat sebagai presiden selama lebih kurang 31 tahun. Contoh lainnya adalah mantan presiden Mesir Hosni Mubarak.

ii.                  Demokratik
Pemimpin memandang semuanya “sama” bahkan dirinya tidak ingin terlalu dihormati berlebihan. Kepentingan anggotalah yang diutamakan. Memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk menyalurkan pendapatnya. Setelah Reformasi, kepemimpinan di Indonesia adalah demokrasi.

iii.                Laissez-faire
Anggota diberikan kebebasan penuh dalam mengambil keputusan sehingga minim partisipasi dari pemimpin. Dikarenakan minimnya partisipasi pemimpin, tipe ini bias berjalan apabila anggota menunjukan peningkatan kompetensi dan keyakinan untuk mengejar tujuan organisasi. Pemimpin hanya menentukan tujuan umum dan kebijaksanaan.
Peneliti menemukan bahwa tipe-tipe kepemimpinan yang sangat bervariasi tersebut tergantung pada situasi kepribadian dan tempat dari pemimpin, hal ini disebut pendekatan situasional (situational approach). Ada beberapa hal yang mempengaruhi keefektivan sebuah organisasi, yaitu
i.                    Sistem motivasi dari pemimpin, dan
ii.                  Tingkat yang menyenangkan dari situasi
Berdasarkan teori diatas, situasi kepemimpinan dibagi atas 3 jenis :
i.                    Hubungan pemimpin-anggota
Dalam organisasi, menjaga hubungan baik antar anggota atau antar pemimpin merupakan hal yang penting. Mengapa? Karena untuk menjalankan tujuan utama, diperlukan kerjasama dan komunikasi yang baik. Jika hubungan antar individunya sudah tidak baik, maka akan terjadi perpecahan atau tujuan utama tidak akan berjalan dengan yang direncanakan.

ii.                  Struktur tugas
Penugasan yang memiliki struktur yang jelas, tepat, dan baik akan menjadi lebih efektif dan cepat terselesaikan dibandingkan dengan struktur tugas yang tidak jelas.

iii.                Posisi kekuasaan
Seorang pemimpin akan mempunyai pengaruh dan kekuasaan lebih banyak dibandingkan dengan lainnya, hal ini memungkinkan pemimpin untuk memberi hukuman atau penghargaan kepada anggotanya.
Implikasi manajerial adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dengan cara meningkatkan kapasitas, kualitas, efisiensi, dan efektivitas dari sumber daya yang ada.[1] Untuk mengimplikasikan organisasi manajerial dibutuhkan keteramalan dan kontrol, peranan lingkungan, kesederhanaan dan kerumitan. Dengan keteramalan dan kontrol yang baik, dari pihak pemimpin maupun anggotanya akan terjalin hubungan yang harmonis sehingga visi dan misi organisasi dapat tercapai. Selain keteraturan di dalam organisasi, peranan lingkungan juga merupakan factor yang utama. Tujuan dari organisasi adalah untuk mengimplementasikan yang sudah dikerjakan ke dunia luar. Respons dari luarlah yang menjadi nilai keberhasilan suatu organisasi. Sama seperti halnya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, begitu juga dengan kerumitan adalah kesederhaan yang tertunda. Suatu organisasi akan semakin bagus jika pekerjaan yang dikerjakan semakin detail. Hal ini berarti pekerjaannya semakin kompleks. Oleh karena itu, untuk menyederhanakan kekompleksitasan pekerjaan yaitu dengan kerjasama yang baik dengan sesama anggota atau pimpinan dengan anggota. Dengan begitu pekerjaan akan terasa ringan dan mudah.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, “Macam Gaya Kepemimpinan : Kepemimpinan Autokratis, Kepemimpinan Demokratis dan Kepemimpinan Laissez-Faire (Kendali Bebas)”, Jurnal Manajemen Bahan Kuliah Manajemen, diakses dari http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/10/macam-gaya-kepemimpinan-kepemimpinan.html, pada tanggal 15 April 2014 pukul 22.05.

Dian, “Tipologi Kepemimpinan”, Alinea Alphabetica, diakses dari http://dian-ratnas.blogspot.com/2013/06/tipologi-kepemimpinan.html, pada tanggal 15 April 2014 pukul 22.02.

Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. 2001. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan, Terjemahan Deddy Maulana M.A , Ph.D. Bandung : Remaja Rosdakarya. 

Salusu, Prof. Dr. J. 1998. Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit. Jakarta : Grasindo.
Yukl, Garl. 1998. Kepemimpinan Dalam Organisasi (edisi ketiga), Terjemahan Yusuf Udaya. Jakarta : Victory Jaya Abadi.

 “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, diakses dari http://kbbi.web.id/, pada tanggal 15 April 2014 pukul 22.09.