Tampilkan postingan dengan label kesebelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesebelas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Penjualan Tekstil

JAKARTA, KOMPAS.com - Lampu kuning bagi pebisnis tekstil domestik. Produk tekstil impor diprediksi semakin membanjiri pasar lokal.
Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), memperkirakan, pangsa pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) impor di tahun ini bisa meningkat 10 persen menjadi 65 persen dari pangsa pasar tahun lalu yang sebesar 55 persen.
Pasar tekstil dalam negeri tahun ini diprediksi cuma tumbuh minimal 5 persen dari pasar tahun lalu yang mencapai 22,7 miliar dollar AS.
Membanjirnya produk tekstil impor lantaran produk teksil domestik kalah bersaing. Biaya produksi yang membengkak akibat kenaikan biaya energi dan upah pekerja, membuat industri tekstil lokal mengerek harga 16,7 persen di tahun ini. Kenaikkan harga itu demi mempertahankan marjin usaha.
"Produk lokal harganya naik sementara produk impor tetap," keluh Ade, Rabu (23/1/2013) lalu.
Imbasnya bisa ditebak, konsumen pasti memilih tekstil impor berharga miring. Murahnya harga tekstil impor ini membuat kebutuhan tekstil made in Indonesia per kapita tahun ini bisa turun menjadi 6,6 kilogram saja. Padahal tahun lalu mencapai 7 kilogram produk tekstil per kapita per tahun.
Pelan namun pasti, pertumbuhan penjualan tekstil domestik melambat. API mencatat, penjualan tekstil lokal di pasar domestik tahun 2010 mencapai 7,4 miliar dollar AS atau tumbuh 23 persen dari 2009 yang sebesar 5,7 miliar dollar AS. Tahun lalu, pertumbuhannya cuma 3 persen menjadi 7,6 miliar dollar AS.
Untuk tahun ini ia memprediksi penjualan tekstil lokal bisa turun 10 persne dari tahun lalu. "Untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir bisa minus," katanya.
Artinya, untuk  tahun ini penjualan industri tekstil nasional cuma bisa mencapai 6,8 miliar dollar AS.


Ulasan : 
Dengan pertumbuhan penjualan tekstil yang seperti ini, maka bisa saja banyak masyarakat yang gulung tikar. Pengangguran di perkotaan akan semakin besar. Perpindahan warga di pedesaan ke perkotaan pun semakin meningkat. Hal ini akan meningkatkan kriminalitas. Oleh karena itu, diperlukan lapangan pekerjaan juga di pedesaan.


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/01/25/11423877/Tekstil.Impor.Banjiri.Indonesia

Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan


Pada mulanya masyarakat kota sebelumnya adalah masyarakat pedesaan, dan pada akhirnya masyarakat pedesaan tersebut terbawa sifat-sifat masyarakat perkotaan, dan melupakan kebiasaan sebagai masyarakat pedesaannya.

Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat kota adalah bagaimana cara mereka mengambil sikap dan kebiasaan dalam memecahkan suata permasalahan.
Karakteristik umum masyarakat pedesaan yaitu masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri dalam hidup bermasyarakat, yang biasa nampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat dicontohkan pada kehidupan masyarakat desa di jawa. Namun dengan adanya perubahan sosial dan kebudayaan serta teknologi dan informasi, sebagian karakteristik tersebut sudah tidak berlaku. 
Berikut ini ciri-ciri karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka yang bersifat umum.
1. Sederhana
2. Mudah curiga
3. Menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku didaerahnya
4. Mempunyai sifat kekeluargaan
5. Lugas atau berbicara apa adanya
6. Tertutup dalam hal keuangan mereka
7. Perasaan tidak ada percaya diri terhadap masyarakat kota
8. Menghargai orang lain
9. Demokratis dan religius
10. Jika berjanji, akan selalu diingat

Sedangkan cara beadaptasi mereka sangat sederhana, dengan menjunjung tinggi sikap kekeluargaan dan gotong royong antara sesama, serta yang paling menarik adalah sikap sopan santun yang kerap digunakan masyarakat pedesaan.
Berbeda dengan karakteristik masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan lebih mengutamakan kenyamanan bersama dibanding kenyamanan pribadi atau individu. Masyarakat perkotaan sering disebut sebagai urban community.

Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:
1. kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. Masyarakat kota hanya melakukan kegiatan keagamaan hanya bertempat di rumah peribadatan seperti di masjid, gereja, dan lainnya.
2.  orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain
3. di kota-kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, karena perbedaan politik dan agama dan sebagainya.
4. jalan pikiran rasional yang dianut oleh masyarkat perkotaan.
5. interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan pribadi daripada kepentingan umum.

Hal tersebutlah yang membedakan antara karakteristik masyarakat perkotaan dan pedesaan, oleh karena itu, banyak orang-orang dari perkotaan yang pindah ke pedesaan untuk mencari ketenangan, sedangkan sebaliknya, masyarakat pedesaan pergi dari desa untuk ke kota mencari kehidupan dan pekerjaan yang layak untuk kesejahteraan mereka.


Sumber :
http://tyomulyawan.wordpress.com/perbedaan-masyarakat-kota-dengan-masyarakat-desa/