Rabu, 14 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

Nama   : DEFITA ARYANI
Kelas   : 2KA01
NPM   : 11112802
TOU 3 : Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keputusan adalah segala putusan yang telah ditetapkan. Sedangkan pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan secara sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta, dan penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi. Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari  pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
1.      Intuisi
Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. 

2.      Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.

3.      Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.

4.      Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.

5.      Logika
Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan

Jenis Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus  dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.

Secara garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.

Dalam mengambil keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan  didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.
Pengambilan keputusan berdasarkan 2 metode, yaitu tradisional, dan modern. Sedangkan, pengambilan keputusan secara garis besar ada 2, yaitu rutin, dan tidak rutin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yaitu :
1.      Internal Organisasi seperti ketersediaan dana, SDM, kelengkapan peralatan, teknologi dsb
2.      Eksternal Organisasi seperti keadaan sosial politik, ekonomi, hukum,dsb.
3.      Ketersediaan informasi yang diperlukan
4.      Kepribadian dan kecapakan pengambil keputusan,

Implikasi manajerial :
1.      Gaya pengambilan keputusan
2.      Gaya Direktif (Pengarahan)
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan ambiguitas/ketidakjelasan yang rendah dan cara berpikirnya yang rasional 
3.      Gaya Analitis
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas/ketidakjelasan dan cara berpikirnya rasional

4.      Gaya Konseptual
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi untuk ambiquitas /ketidakjelasan dan cara berpikir intuitif yang tinggi juga

5.      Gaya Perilaku
Suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang rendah untuk ambiquitas/ketidakjelasan dengan cara berpikir intuitif yang tinggi 


DAFTAR PUSTAKA
Anzizhan, Syafaruddin. 2004. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Jakarta : Grasindo.

Idviosa, "Dasar Pengambilan Keputusan", Cari Tahu, diakses dari http://idviosafrisca.blogspot.com/2013/04/dasar-pengambilan-keputusan.html, pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 22.37.

Samuel, "Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi", Idegue, diakses dari http://samuel-idegue.blogspot.com/2013/04/definisi-dan-dasar-pengambilan.html, pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 22.37.

“Kamus Besar Bahasa Indonesia”, diakses dari http://kbbi.web.id/, pada tanggal 14 Mei 2014 pukul 22.33.


Selasa, 15 April 2014

Kepemimpinan

Nama   : DEFITA ARYANI
Kelas   : 2KA01
NPM   : 11112802
TOU 2 : Kepemimpinan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan diambil dari kata pimpin yang artinya menuntun atau membimbing. Menurut buku Kepemimpinan Dalam Organisasi (1998:2), kepemimpinan merupakan perilaku dari aktivitas-aktivitas suatu kelompok yang dipimpin oleh seorang individu untuk suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal). Jadi, kepemimpinan adalah cara menuntun atau memimpin kelompok individu. Dalam organisasi, terkadang ketika mengalami kegagalan atau keburukan, orang yang pertama kali disalahkan adalah pemimpin. Kepemimpinan seorang ketua atau pemimpin akan dipertanyakan. Tetapi sebaliknya, jika organisasi tersebut sukses atau mengalami peningkatan, orang lupa dengan keberhasilan pemimpin untuk membimbing. Oleh karena itu, peran seorang pemimpin dalam sebuah organisasi sangatlah penting untuk menggerakan anggota-anggota organisasinya.
Menurut pemikiran yang dikembangkan oleh Lewin, Lippitt, dan White terdapat tiga gaya atau tipologi kepemimpinan, di antaranya :
i.                    Otokratik
Kepemimpinan ini menggunakan paksaan kepada anggotanya dan bersifat menghukum. Anggotanya hanya dianggap sebagai alat pesuruh. Kebanyakan, tujuan pribadi pemimpin menjadi tujuan organisasi. Pemimpin menganggap organisasi merupakan hak milik sendiri, bukan untuk bersama. Pemerintahan ini pernah terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru pemerintahan bapak Soeharto yang menjabat sebagai presiden selama lebih kurang 31 tahun. Contoh lainnya adalah mantan presiden Mesir Hosni Mubarak.

ii.                  Demokratik
Pemimpin memandang semuanya “sama” bahkan dirinya tidak ingin terlalu dihormati berlebihan. Kepentingan anggotalah yang diutamakan. Memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk menyalurkan pendapatnya. Setelah Reformasi, kepemimpinan di Indonesia adalah demokrasi.

iii.                Laissez-faire
Anggota diberikan kebebasan penuh dalam mengambil keputusan sehingga minim partisipasi dari pemimpin. Dikarenakan minimnya partisipasi pemimpin, tipe ini bias berjalan apabila anggota menunjukan peningkatan kompetensi dan keyakinan untuk mengejar tujuan organisasi. Pemimpin hanya menentukan tujuan umum dan kebijaksanaan.
Peneliti menemukan bahwa tipe-tipe kepemimpinan yang sangat bervariasi tersebut tergantung pada situasi kepribadian dan tempat dari pemimpin, hal ini disebut pendekatan situasional (situational approach). Ada beberapa hal yang mempengaruhi keefektivan sebuah organisasi, yaitu
i.                    Sistem motivasi dari pemimpin, dan
ii.                  Tingkat yang menyenangkan dari situasi
Berdasarkan teori diatas, situasi kepemimpinan dibagi atas 3 jenis :
i.                    Hubungan pemimpin-anggota
Dalam organisasi, menjaga hubungan baik antar anggota atau antar pemimpin merupakan hal yang penting. Mengapa? Karena untuk menjalankan tujuan utama, diperlukan kerjasama dan komunikasi yang baik. Jika hubungan antar individunya sudah tidak baik, maka akan terjadi perpecahan atau tujuan utama tidak akan berjalan dengan yang direncanakan.

ii.                  Struktur tugas
Penugasan yang memiliki struktur yang jelas, tepat, dan baik akan menjadi lebih efektif dan cepat terselesaikan dibandingkan dengan struktur tugas yang tidak jelas.

iii.                Posisi kekuasaan
Seorang pemimpin akan mempunyai pengaruh dan kekuasaan lebih banyak dibandingkan dengan lainnya, hal ini memungkinkan pemimpin untuk memberi hukuman atau penghargaan kepada anggotanya.
Implikasi manajerial adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dengan cara meningkatkan kapasitas, kualitas, efisiensi, dan efektivitas dari sumber daya yang ada.[1] Untuk mengimplikasikan organisasi manajerial dibutuhkan keteramalan dan kontrol, peranan lingkungan, kesederhanaan dan kerumitan. Dengan keteramalan dan kontrol yang baik, dari pihak pemimpin maupun anggotanya akan terjalin hubungan yang harmonis sehingga visi dan misi organisasi dapat tercapai. Selain keteraturan di dalam organisasi, peranan lingkungan juga merupakan factor yang utama. Tujuan dari organisasi adalah untuk mengimplementasikan yang sudah dikerjakan ke dunia luar. Respons dari luarlah yang menjadi nilai keberhasilan suatu organisasi. Sama seperti halnya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, begitu juga dengan kerumitan adalah kesederhaan yang tertunda. Suatu organisasi akan semakin bagus jika pekerjaan yang dikerjakan semakin detail. Hal ini berarti pekerjaannya semakin kompleks. Oleh karena itu, untuk menyederhanakan kekompleksitasan pekerjaan yaitu dengan kerjasama yang baik dengan sesama anggota atau pimpinan dengan anggota. Dengan begitu pekerjaan akan terasa ringan dan mudah.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, “Macam Gaya Kepemimpinan : Kepemimpinan Autokratis, Kepemimpinan Demokratis dan Kepemimpinan Laissez-Faire (Kendali Bebas)”, Jurnal Manajemen Bahan Kuliah Manajemen, diakses dari http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/10/macam-gaya-kepemimpinan-kepemimpinan.html, pada tanggal 15 April 2014 pukul 22.05.

Dian, “Tipologi Kepemimpinan”, Alinea Alphabetica, diakses dari http://dian-ratnas.blogspot.com/2013/06/tipologi-kepemimpinan.html, pada tanggal 15 April 2014 pukul 22.02.

Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. 2001. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan, Terjemahan Deddy Maulana M.A , Ph.D. Bandung : Remaja Rosdakarya. 

Salusu, Prof. Dr. J. 1998. Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit. Jakarta : Grasindo.
Yukl, Garl. 1998. Kepemimpinan Dalam Organisasi (edisi ketiga), Terjemahan Yusuf Udaya. Jakarta : Victory Jaya Abadi.

 “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, diakses dari http://kbbi.web.id/, pada tanggal 15 April 2014 pukul 22.09.


Sabtu, 15 Maret 2014

Peran Komunikasi Dalam Organisasi

Seluruh aspek kehidupan setiap manusia dipengaruhi oleh komunikasi dengan manusia satu dengan manusia lainnya. Hakikat itu tidak akan bias terlepas dari kehidupan dari zaman dahulu hingga era modern ini. Komunikasi tidak hanya terbatas manusia, tetapi hewan dan tumbuhan pun menyampaikan komunikasi ke sesama makhluk hidup. Contoh-contoh dalam berkomunikasi adalah berbincang, menyampaikan pesan, atau bahkan hanya memberikan isyarat.

Definisi dari komunikasi itu sendiri merupakan transmisi/penyampain pesan dari suatu sumber kepada penerima.  Terdapat komponen-komponen dalam komunikasi, di antaranya : 1.) pengirim pesan; 2.) pesan; 3.) saluran; 4.) penerima pesan; dan 5.) balikan. Pengirim pesan mengirimkan pesan yang berisi informasi yang ada dipikiran si pengirim atau bahkan pesan dari sumber lain. Oleh karena itu sebelum mengirim pesan, pengirim perlu menuliskan isi yang akan dikirimnya. Pesan adalah informasi yang dituliskan atau disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Melalui saluran, pesan yang dikirim oleh pengirim dapat tersampaikan oleh penerima. Saluran dapat berupa media-media perantara yang ada. Penerima pesan akan menerima pesan yang disampaikan oleh pengirim, dan setelah itu tergantung kepada penerima jika ingin memberikan balikan atau respons kepada sumber pengirim.

Proses komunikasi dilakukan bahkan sebelum masa pra-sejarah. Sebelum ditemukannya tulisan, manusia berkomunikasi melalui lisan. Barulah setelah ditemukannya tulisan, manusia melakukan komunikasi dengan tulisan dan surat-surat. Perkembangan tulisan itu pun tidak serta merta berkembang pesat. Tulisan pertama pada 5000 tahun yang lalu dikembangkan secara bebas di Mesir kuno. Adapun zaman dahulu manusia berkomunikasi dengan sandi-sandi, seperti sandi morse, dan menggunakan perantara hewan. Untuk zaman modern ini, manusia berkomunikasi dapat menggunakan perantara/media yang lebih canggih, seperti radio, telepon seluler, dan internet.

Membuat tulisan dibutuhkan kemampuan dasar memahami tulisan. Sebelum menulis, kita harus dapat memahami huruf-huruf dan bagaimana merangkai kata agar tulisan dapat tersampaikan dengan baik. Sering kali terjadi kesalahpahaman dalam membaca tulisan, salah satu faktornya adalah penggunaan kata atau tanda baca yang tidak tepat. Dari sinilah terjadi miskomunikasi oleh si penerima. Penerima tidak dapat mengambil maksud dari pengirim tulisan/surat.

Dengan komunikasi, manusia membentuk kumpulan manusia lainnya sehingga membentuk suatu organisasi. Sebuah organisasi dapat berjalan dengan baik jika anggota-anggotanya saling mendukung satu sama lain. Pada tahun 1981, seorang tokoh bernama Kohler menyatakan bahwa dalam organisasi komunikator dan pemimpin organisasi perlu memahami dan menyempurnakan kemampuan komunikasi kepada anggota organisasi. Menurut buku Kepemimpinan Dalam Organisasi (1998:2), kepemimpinan merupakan perilaku dari aktivitas-aktivitas suatu kelompok yang dipimpin oleh seorang individu untuk suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal). Sehingga pemimpin organisasi yang baik adalah pemimpin yang mampu mengepalai organisasi dengan memahami karakter para anggotanya dengan baik. Dengan begitu komunikasi dapat berjalan dengan efektif tanpa terjadi kesalahpahaman atau miskomunikasi.

Implikasi manajerial adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dengan cara meningkatkan kapasitas, kualitas, efisiensi, dan efektivitas dari sumber daya yang ada.[1] Untuk mengimplikasikan organisasi manajerial dibutuhkan keteramalan dan kontrol, peranan lingkungan, kesederhanaan dan kerumitan. Dengan keteramalan dan kontrol yang baik, dari pihak pemimpin maupun anggotanya akan terjalin hubungan yang harmonis sehingga visi dan misi organisasi dapat tercapai. Selain keteraturan di dalam organisasi, peranan lingkungan juga merupakan factor yang utama. Tujuan dari organisasi adalah untuk mengimplementasikan yang sudah dikerjakan ke dunia luar. Respons dari luarlah yang menjadi nilai keberhasilan suatu organisasi. Sama seperti halnya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, begitu juga dengan kerumitan adalah kesederhaan yang tertunda. Suatu organisasi akan semakin bagus jika pekerjaan yang dikerjakan semakin detail. Hal ini berarti pekerjaannya semakin kompleks. Oleh karena itu, untuk menyederhanakan kekompleksitasan pekerjaan yaitu dengan kerjasama yang baik dengan sesama anggota atau pimpinan dengan anggota. Dengan begitu pekerjaan akan terasa ringan dan mudah.


DAFTAR PUSTAKA
Baran, Stanley J. 2012. Pengantar Komunikasi Massa Melek Media dan Budaya (Jilid Kesatu Edisi Kelima), Terjemahan S Rouli Manalu. Jakarta : Erlangga. 

LittleJohn, Stephen W. dan Karen A. FossAll. 2012. Teori Komunikasi (Edisi Kesembilan), Terjemahan Mohammad Yusuf Hamdan. Jakarta : Salemba Humanika. 

Muhammad, Dr. Arni. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara.

Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. 2001. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan, Terjemahan Deddy Maulana M.A , Ph.D. Bandung : Remaja Rosdakarya. 

Yukl, Garl. 1998. Kepemimpinan Dalam Organisasi (edisi ketiga), Terjemahan Yusuf Udaya. Jakarta : Victory Jaya Abadi.





[1]      Heriyanto, “Implikasi Manajerial”, Heri Y, diakses dari http://herisllubers.blogspot.com/2013/05/implikasi-manajerial-implikasi.html, pada tanggal 15 Maret 2014 pukul 21.32.

Kamis, 28 November 2013

TOU 3

1. Apa beda pengaruh, kekuasaan, dan wewenang?

Jawab :
Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, dan perbuatan seseorang. Contoh : pengaruh orangtua terhadap watak anaknya.
Kekuasaan adalah untuk mengurus dan memerintah atas sesuatu. Contoh : Kekuasaan pemerintah terhadap rakyatnya.
Wewenang adalah hak dan kekuasaan untuk bertindak. Contoh wewenang Bos terhadap sekertarisnya.

2. Teknik pengambilan keputusan ada berapa? Apa saja?

Jawab :

1. Elementary Methods (Metode dasar)
Metode pendekatan ini sangat simple, dan membutuhkan perhitungan untuk mendukung analisis. Metode ini sesuai untuk keadaan di mana masalah hanya diselesaikan oleh satu orang saja, alternatif yang terbatas dan ada karakter yang unik di lingkungan pembuatan keputusan.

2. MAUT (Multi-Attribute Utility Theory)
Metode ini menggunakan skala prioritas antara 0-1 untuk membantu dalam pembuatan keputusan di organisasi. Hasil dari prioritas itu dapat digunakan sebagai pembuat keputusan.

3. SMART (Simple Multi Attribute Rating Techniqu)
Metode pengambilan keputusan ini menggunakan fungsi nilai yang dihitung secara matematis. Adanya skala penilaian yang telah diketahui oleh banyak orang.

4. Basic Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA)
MCDA umumnya mempunyai masalah yang memiliki salah satu dari sejumlah alternatif. Alternatif tersebut didasarkan pada seberapa baik dalam penilaian hal yang dipilih. Kriteria dan nilai atau score-nya dibuat oleh si pembuat keputusan. Setelah memberikan penilaian terhadap alternatif  dijumlahkan sesuai  masing-masing kriteria dan kemudian diurutkan sesuai jumlahscore. Urutan hasil yang telah didapatkan oleh pembuat keputusan adalah hasil keputusan.

5. NGT (Nominal Group Technic)
NGT adalah suatu metode untuk mencapai konsensus dalam suatu kelompok dalam membuat keputusan. Teknik ini mengumpulkan ide-ide dari tiap peserta atau anggota organisasi kemudian memberikan voting dan rangking terhadap ide-ide yang mereka pilih. Ide yang dipilih adalah ide yang paling banyak score-nya, yang berarti merupakan konsensus bersama.

3. Apa unsur-unsur dalam komunikasi?

Jawab :
1. Sumber
Sumber adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku, dokumen dan sejenisnya.
2. Komunikator
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
     - Penampilan
Khusus dalam komunikasi tatap muka atau yang menggunakan media pandang dengan audio visual, seorang komunikator harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan komunikan. Penampilan ini sesuai dengan tata krama dengan memperhatikan keadaan, waktu dan tempat.
     - Penguasaan masalah
Seseorang yang tampil atau ditampilkan sebagai komunikator haruslah betul- betul menguasai masalahnya. Apabila tidak, maka setelah proses komunikasi berlangsung akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap komunikator dan akhirnya terhadap pesan itu sendiri yang akan menghambat terhadap efektivitas komunikasi.
     -Penguasaan bahasa
Komunikator harus menguasai bahasa dengan baik. Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan dan dapat dipahami oleh komunikan. Penguasaan bahasa akan sangat membantu menjelaskan pesan- pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada audience.

3. Pesan
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan ini mempunyai inti pesan yang sebenarnya menjadi pengarah di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Pesan dapat secara panjang lebar mengupas berbagai segi, namun inti pesan dari komunikasi akan selalu mengarah kepada tujuan akhir komunikasi itu.

4. Channel/ Saluran
Channel adalah saluran penyampaian pesan, biasa juga disebut dengan media. Media komunikasi dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu media umum dan media massa. Media umum adalah media yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, contohnya radio dan sebagainya. Media massa adalah media yang digunakan untuk komunikasi massa, misalnya televisi.

5. Komunikasi
Komunikasi dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu
    1) personal
    2) kelompok, dan
    3) massa
Dari segi sasarannya, komunikasi ditujukan atau diarahkan kedalam komunikasi personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa.

6. Efek
Efek adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yaitu sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apabila sikap dan tingkah laku orang lain itu sesuai, maka komunikasi berhasil.

7. Faktor- faktor yang diperhatikan dalam proses komunikasi
    1)Empat tahap proses komunikasi menurut Cutlip dan Center, yaitu:
        - pengumpulan fakta
        - Perencanaan
        - Komunikasi
        - Evaluasi
    2)Prosedur mencapai effect yang dikehendaki menurut Wilbur Schraam, yaitu:
        - Attention (perhatian)
        - Interest (Kepentingan)
        - Desire (Keinginan)
        - Decision (Keputusan)
        - Action (Tindakan)

Sumber :
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
http://danicajohanna.blogspot.com/2013/03/teknik-metode-pengambilan-keputusan.html
http://latansablog.wordpress.com/2011/11/24/pengertian-dan-unsur-unsur-komunikasi/


Selasa, 05 November 2013

Berlalu-lintas

Kadang dalam berlalu-lintas, kita melupakan hal yang sangat penting. Apakah itu? Ya, KESELAMATAN. Begitu banyak orang menyepelekan keselamatan mereka. Padahal sudah begitu banyak berita mengenai kecelakaan lalu-lintas, yang sebagian besarnya merupakan kecerobohan para pengendara. Bahkan hampir 50% kecelakaan lalu-lintas terjadi setiap tahunnya. Beberapa tindakan polisi seperti razia pun sering dilakukan guna memberi peringatan bahwa kelengkapan dalam berkendara sangat diperlukan.

Menurut kalian, hal-hal apa saja yang sering disepelekan para pengendara? Berikut adalah hal-hal yang menurut saya sering dilupakan.

1. Helm dan Sabuk Pengaman
Helm adalah alat berbentuk seperti topi yang menutupi kepala seluruhnya dengan material yang keras agar tetap terlindungi. Orang sering beranggapan "Ah ngapain pakai helm? deket jaraknya kok" atau "Ntar aja pakai helmnya, kalau ada polisi atau razia". Padahal kita tidak tahu kapan bahaya akan datang. Begitu juga dengan sabuk pengaman, orang beranggapan "Ngapain pakai sabuk pengaman? Kan kita di dalam mobil. Gak akan jatuh atau terluka".

2. Aturan Lalu Lintas
Dengan tidak mentaati lalu lintas saja, Anda bisa membahayakan diri Anda bahkan orang lain. Misalnya saja lampu lalu lintas baru saja berwarna merah, lalu ada seorang pengendara yang menganggap "Ah baru mulai kok warna merahnya! Pasti gak apa-apa kalau diterobos". Pasti hampir seluruh dari pengendara kendaraan PERNAH melakukan dan berpikiran seperti itu. Perbuatan seperti itu bisa saja mengakibatkan kemacetan dan kecelakaan. Menghiraukan rambu lalu lintas juga merupakan pelanggaran dalam berlalu-lintas.

3. Kelengkapan Kendaraan
Apa saja kelengkapan kendaraan yang dibutuhkan? Spion dan lampu depan belakang. Tanpa spion, pengendara tidak dapat mengetahui ada apa dibelakangnya. Terkadang banyak pengendara motor yang menyepelekan hal ini. Kebanyakan hal ini terjadi antara motor dengan mobil, dan pengendara mobillah yang dimintai pertanggungjawaban. Padahal kita tahu kan siapa yang salah?

Lampu depan dan belakang pun memegang peranan penting dalam keselamatan. Ketika malam, lampu tidak hanya sebagai penerang bagi si pengendara itu sendiri tetapi juga menjadi "tanda" untuk pengendara lain. Jadi, sewaktu-waktu pengendara A ingin berbelok atau ke arah mana saja, pengendara lain menjadi hati-hati dan menjaga jarak aman juga.

Itulah hal-hal yang sering dilupakan. Bagaimana menurut Anda?

Senin, 04 November 2013

Konflik dan Motivasi

A. Pengertian Konflik 
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. 

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus dimasyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

B. Jenis-jenis konflik
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada empat jenis konflik yaitu:
  1. Konflik intrapersona, adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
  2. Konflik Interpersonal, adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. 
  3. Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok, Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka. 
  4. Konflik interorganisasi, Konflik intergrup merupakan hal yang tidak asing lagi bagi organisasi manapun, dan konflik ini meyebabkan sulitnya koordinasi dan integrasi dari kegiatan yang berkaitan dengan tugas-tugas dan pekerjaan. 
C. Sumber-sumber Konflik
  1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan, Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
  2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda, Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. 
  3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu,dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. 
  4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat, Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik social. 
D. Pengertian Motivasi 
Motivasi berasal dari kata move yang artinya "bergerak". Salah satu unsur dari motivasi itu sendiri adalah motif atau alasan atau bisa juga disebut bisa jadi merupakan sesuatu yang memotivasi. Motivasi sendiri bisa dikelompokkan menjadi motivasi internal dan motivasi eksternal. Bila motivasi eksternal merupakan motivasi yang berasal dari luar diri, maka motivasi internal adalah motivasi yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Motivasi eksternal biasanya bersifat sementara. Lain halnya dengan motivasi internal yang bersifat lebih kekal. 

· Pengertian motivasi menurut beberapa ahli:

- ANTON IRIANTO
Motivasi adalah sesuatu yang menggerakan atau mendorong seseorang atau kelompok orang, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

- ALAN LOY MCGINNIS
Kemauan yang tinggi untuk mengerahkan upaya menuju tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk memenuhi beberapa kebutuhan individual.

- WEINER
Motivasi merupakan kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu.

- UNO
Motivasi merupakan sebuah dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat untuk melakukan kegiatan, dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, harapan dan cita-cita, penghargaan dan penghormatan atas diri, lingkungan yang baik, serta kegiatan yang menarik.

E. Teori-teori Motivasi 
- Teori Hierarki Kebutuhan Maslow 
Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara satu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami perilaku tanpa mengerti kebutuhannya. 

· Abraham Maslow (Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut :
  1. Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar 
  2.  Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup 
  3. Kebutuhan untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai 
  4. Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain 
  5.  Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan dan kritik terhadap sesuatu 
- Teori Keadilan 
Keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang, jadi perusahaan harus bertindak adil terhadap setiap karyawannya. Penilaian dan pengakuan mengenai perilaku karyawan harus dilakukan secara obyektif. Teori ini melihat perbandingan seseorang dengan orang lain sebagai referensi berdasarkan input dan juga hasil atau kontribusi masing-masing karyawan (Robbins, 2007). 

- Teori X dan Y 
Douglas McGregor mengemukakan pandangan nyata mengenai manusia. Pandangan pertama pada dasarnya negative disebut teori X, dan yang kedua pada dasarnya positif disebut teori Y (Robbins, 2007). 

- Teori dua Faktor Herzberg 
Teori ini dikemukakan oleh Frederick Herzberg dengan asumsi bahwa hubungan seorang individu dengan pekerjaan adalah mendasar dan bahwa sikap individu terhadap pekerjaan bias sangat baik menentukan keberhasilan atau kegagalan. (Robbins, 2007). 

· Herzberg memandang bahwa kepuasan kerja berasal dari keberadaan motivator intrinsik dan bawa ketidakpuasan kerja berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik. Faktor-faktor ekstrinsik (konteks pekerjaan) meliputi : 
  1. Upah 
  2. Kondisi kerja 
  3. Keamanan kerja 
  4. Status 
  5. Prosedur perusahaan
  6. Mutu penyeliaan 
  7. Mutu hubungan interpersonal antar sesama rekan kerja, atasan, dan bawahan 
- Teori Kebutuhan McClelland 
Teori kebutuhan McClelland dikemukakan oleh David McClelland dan kawan-kawannya.

Contoh Kasus :
TEMPO.CO , Jakarta--Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Hermawan, menyatakan dari hasil operasi mayoritas pelaku premanisme dilakoni oleh remaja. Menurut dia, rata-rata usia mereka berada di rentang 15 sampai 20 tahun. 

"Mereka juga kebanyakan putus sekolah," ucap Hermawan di Polres Jakarta Selatan, Ahad, 7 April 2013. Namun ada juga pelaku premanisme yang berusia di atas 25 tahun. Kasat Reskrim menyatakan berdasarkan pada hasil razia yang dilakukan Polres Jakarta Selatan pada November tahun lalu, sebanyak 45 pelaku berhasil dijaring. 

Mereka yang terjaring terlibat tindak pidana beragam, seperti pencopetan, pemerasan, penganiayaan atau pengeroyokan terhadap seseorang, serta kepemilikan senjata tajam atau narkotika. Polisi menjaring pelaku di tempat-tempat keramaian seperti terminal dan pasar. "Terakhir kami razia di pasar Blok-M," kata Hermawan. 

Lebih lanjut, Hermawan tidak tahu secara pasti berapa jumlah pelaku premanisme yang dibawa sampai ke meja hijau. Namun penyidik tidak melakukan penahanan terhadap pelaku yang berada di bawah umur. Pihaknya, kata dia, telah bekerja sama dengan Dinas Sosial DKI Jakarta untuk melakukan pembinaan. "Kalau tidak ada indikasi unsur pidana dilakukan pembinaan saja terhadap mereka," sambung Hermawan. 

Dari hasil pemeriksaan polisi usai merazia pada November lalu, para pelaku premanisme umumnya melakukan tindak pidana karena didorong faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka pun biasanya tergabung dalam kelompok kecil dan tidak memiliki atasan alias bos. "Wilayah kerjanya pun tersebar dan tidak sama antarsatu kelompok dengan kelompok lain," ucap Hermawan. 

Kasat Reskrim menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya juga akan melakukan kembali operasi terhadap premanisme. Operasi ini dilakukan untuk meredam aksi kejahatan di wilayah hukum Jakarta Selatan. 


Ulasan :
Hal ini tentunya sangat bagus dilakukan mengingat banyaknya tingkat kriminalitas di Indonesia, terutama Jakarta. Premanisme ini sendiri dikarenakan oleh sedikitnya lapangan pekerjaan dan rendahnya tingkat pendidikan perorangnya. Tak jarang "preman" tersebut melakukan kejahatan lainnya dengan menculik anak-anak kecil untuk disuruh mengamen. Preman pun ada yang termasuk preman "berdasi". Menurut saya, preman berdasi pun perlu dijaring dikarenakan kerugian yang diakibatkan ,mungkin, lebih besar daripada preman pasar. 

Namun, penjaringan ini harus dilakukan secara berkala agar benar-benar hilang, atau paling tidak berkurang, premanisme di sekitar kita. Cukup sudahlah negara kita ini kian terpuruk. Mari kita bangkitkan kedamaian dan kesejahteraan di tanah air tercinta ini


SUMBER : 
http://rdnrizki.blogspot.com/2012/11/konflik-dan-motivasi.html
http://www.tempo.co/read/news/2013/04/08/064471795/Pelaku-Premanisme-Kebanyakan-Pemuda-Tanggung

Minggu, 03 November 2013

Mangricota recipe

Just now I made Mangricota smoothie, I know it sounds funny but the taste isn't a joke. It tastes reaaaaally good and you could feel the smoothness of Mangricota. I feel like I'm dying for it. It isn't too sweet but the flavour would make you addicted. Here is the simple recipe, you just have to blend it all and serve it cold.

.

Ingredients :
200 ml of milk
1 mango
1 or 2 apricot (s)
1 yogurt of aloe vera

Good luck!