Senin, 10 Juni 2013

Kesel itu.....

....ketika ada acara keluarga di teras rumah tau2 ada bocah yg ngamen padahal itu malem sekali

....ketika ada yg manjat pohon buah lo, terus pas turun tau2 ngomong "makasih ya bu" padahal dia ga ijin dan ga menghormati lo sbg yg punya

....ketika rumah ada di ujung gang, pas ngecat tembok yg ujung luar tau2 beberapa hari kemudian udah di isi SAMPAH tulisan ga penting. mending kalo dia bikin mural, lah ini tulisan2 graviti yg JELEK bgt dan modal warnanya biru/hitam aja

....ketika ada pengamen yg marah2 sampe ngatain karna ga dikasih duit

....ketika ada pengamen tampang preman. bawannya parno mulu takut ditodong

....ketika orang seperti saya sok2 ngomel padahal diri sendiri jg blm tntu bener

....tau kalo hidup itu KERAS! makanya 

Senin, 03 Juni 2013

Gelisah

Apa itu gelisah? Gelisah adalah persaan yang membuat manusia selalu khawatir.

Ada beberapa macam kegelisahaan :

1. Kegelisahan Negatif
Kegelisahan negatif adalah kegelisahan yang memunculkan pikiran-pikiran yang melewati batas. Apa contoh kegelisahan negatif? Misalnya Anda, atau siapa saja, tidak sengaja menabrak orang di jalan dan tanpa disadari tabrakan itu membuat korban luka atau pingsan. Situasi sekitar juga sangat sepi. Di dalam benak Anda mungkin saja muncul pemikiran-pemikiran negatif, seperti meninggalkan korban begitu saja tanpa menolong.
Lalu bagaimana mengatasi kegelisahan negatif ini? Lebih baik Anda diam sejenak agar pikiran tenang, karena dengan pikiran yang tenang akan menghasilkan ide yang baik dan jernih.

2. Kegelisahan Positif
Kegelisahan positif merupakan kegelisahan yang membuat sesorang bersemangat. Misalnya saja ketika Anda di kantor/sekolah/kampus tidak mendapat penghargaan/nilai yang lebih tinggi dari teman partner Anda. Lalu Anda menjadi gelisah dan takut tidak bisa bersaing dengannya. Oleh karena itu Anda berpikir bagaimana bisa seperti teman partner Anda.


Bantuan :
http://fikriaulia03.blogspot.com/2010/06/manusia-dan-kegelisahan.html
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

Sabtu, 01 Juni 2013

Kok Aneh?

MERDEKA.COM. Kesedihan sempat mewarnai wajah Gita Saraswati (17), siswi SMA Negeri 15 Sunggal Medan setelah dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN). Gita dinyatakan tidak lulus karena nilai ujian Bahasa Indonesia-nya hanya 0,82.

Gita lalu protes ke sekolahnya dan dinas pendidikan. Ia protes karena yakin bisa mengerjakan soal UN Bahasa Indonesia dengan mudah. Di sekolah, nilai Bahasa Indonesia Gita rata-rata 8.

"Gita tidak bisa terima. Gita yakin bisa jawab soalnya. Minimal 20 soal saya bisa jawab, apalagi itu kan mata ujian hari pertama, boleh tanya orangtua, saat itu Gita benar-benar fokus belajar. Kok nilainya cuma 0,82," kata Gita, siswi SMA Negeri 15 ini, Rabu (29/5) lalu.
Sehari setelah Gita berbicara ke publik, perjuangan Gita membuahkan hasil. Bim salabim, tiba-tiba dari pihak sekolah mendapat informasi bahwa Gita lulus ujian.

Ternyata, nilai Bahasa Indonesia Gita tidak 0,82 tapi 7,8. Karena ada perubahan nilai, Gita akhirnya dinyatakan lulus.

Kepala SMAN 15 Medan, Darwin Siregar mengaku tak tahu bagaimana nilai bahasa Indonesia Gita Saraswati bisa salah. Darwin juga tidak bisa menjelaskan kronologi terjadinya kesalahan pada penilaian lembar jawaban ujian Bahasa Indonesia Gita.

"Bukan domain saya menjawab itu, melainkan panitia UN," jelasnya kepada merdeka.com, Kamis (30/5).

Tidak hanya Darwin, Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Sumut Yusri dan Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Medan Marasutan Siregar mengaku tidak mengetahui persoalan itu.

"Saya belum mendapat laporan. Saya baru tahu dari Anda," ucap Yusri saat dihubungi merdeka.com, Kamis (30/5).

Ketidaktahuan ini juga disampaikan Marasutan Siregar. Seperti Yusri, dia juga sempat bertanya tentang kasus yang menimpa Gita Saraswati. "Yang mana? Oh kalau soal hasil itu ke Unimed (Universitas Negeri Medan)," katanya.

Kalau semua tidak tahu begini, lantas siapa yang harus bertanggung jawab?

Ulasan : 
Tepat tanggal 24 Mei lalu, semua siswa/i SMA di seluruh Indonesia menerima hasil kelulusan atas Ujian Nasional. Persentase kelulusan diperkirakan hingga 99,48%.Hal ini cukup bagus walaupun ada beberapa siswa yang tidak lulus.
Ada contoh kasus yang lucu (?) menurut saya. Salah satunya kasus Gita Saraswati di Medan. Tidak menutup kemungkinan dia tidak lulus tahun ini, namun yang mengherankan kenapa bisa nilai 0,82 berubah menjadi 7,8? Dimana letak kesalahannya? Kenapa hal begini saja bisa begitu ceroboh? Hal ceroboh sedikit saja pada hal ini, baik kualitas kertas ataupun pengecekan nilai, dapat mengakibatkan ketidaklulusan bagi siswa. Dan ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab, malah lempar sana-sini. Dimana letak pertanggungjawaban para pelaksana UN?
Sumber :
http://id.berita.yahoo.com/misteri-tersulapnya-nilai-un-gita-saraswati-dari-7-002200423.html

Senin, 13 Mei 2013

Kegelisahan Warga Sidoarjo


Sindonews.com - Nasib warga korban lumpur Lapindo yang terdampak langsung di Sidoarjo, Jawa Timur sungguh tertekan. Tidak hanya memikirkan sisa gantirugi dari Lapindo, mereka juga dipastikan akan kehilangan hak suara dalam Pemilu 2014 mendatang.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum KPU Sidoarjo, tercatat ada lebih dari 66 ribu warga korban lumpur yanag akan kehilangan hak suara karena kesulitan mendata kembali korban lumpur Lapindo yang sudah tersebar dibeberapa wilayah.

Ketua KPU Sidoarjo Bhima Ariesdiyanto menegaskan, lebih dari 66 ribu warga korban lumpur lapindo asal 11 desa di kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon dipastikan akan kehilangan hak suara dalam Pemilihan Umum 2014 dan Pilgub Jatim Agustus 2013 mendatang.

"KPU Sidoarjoko kesulitan melakukan verifikasi dan administrasi mereka. Padahal hasil verifikasi warga korban lumpur tersebut diperlukan untuk daftar pemilih pemilu 2014 mendatang," katan Bhima di kantornya, Rabu (13/3/2013).

Menurut data di KPU Sidoarjo, jumlah warga di sebelas desa areal berdampak lumpur Lapindo, saat Pemilu 2009 lalu mencapai 66.349 orang. Mereka berada di tiga wilayah kecamatan, masing-masing Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon.

Tahun ini ternyata jumlah warga di sebelas desa areal terdampak lumpur Lapindo tidak terlalu berbeda dengan tahun 2009. Padahal sebagian besar warga sudah pindah tempat tinggal di desa atau kecamatan lain.

"Warga korban lapindo tidak mungkin kembali ke desanya karena wilayah mereka hilang ditenggelamkan lumpur. Celakanya data kependudukan mereka masih tercatat di wilayah yang sudah dilenyapkan lumpur itu," katanya.

Seharusnya secara adminstratif faktual, warga korban lumpur yang pindah tempat tinggal sudah tercatat sebagai penduduk di wilayah barunya. Kondisi ini kemudian menimbulkan persoalan KPU dalam menetapkan daftar pemilih tetap.


Ulasan :
Mulai 16 April tahun lalu, lebih dari 2.000 orang secara bergantian memblokade tanggul lumpur di titik 25, Porong, Sidoarjo. Meski terhitung menjadi korban pertama yang terusir dari kampung halaman sejak 2006, hingga kini proses ganti ruginya belum tuntas. Padahal, proses ganti rugi kepada rekan-rekan mereka yang kampungnya tenggelam belakangan malah sudah banyak yang beres. Namun sekarang, lumpur sudah hampir mencapai batas tanggul yang dibuat. Hal ini tentu saja menimbulkan keresahan bagi warga sekitar dan juga warga Indonesia. Sampai sekarang masalah lumpur ini belum terselesaikan walau sudah terjadi selama lebih kurang 6 tahun.

Apakah yang harus kita lakukan? Akankah pulau Jawa kita akan tenggelam? Kita berharap akan mendapat pemimpin yang mampu mengatasi permasalahan ini kedepannya. Dan dengan adanya lumpur ini, semoga menjadi berkah dan pelajaran bagi negara kita. Mungkin suatu saat ada manfaat yang bisa dihasilkan dari lumpur yang diolah oleh bangsa kita.

Sumber :
http://daerah.sindonews.com/read/2013/03/13/28/726724/66-ribu-korban-lumpur-lapindo-kehilangan-hak-suara

Rabu, 08 Mei 2013

Razia

JAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia terhadap para pedagang kaki lima dan gelandangan di kawasan Monumen Nasional (Monas). Sebanyak 40 gerobak PKL dan 17 orang gelandangan terjaring dalam razia ini.
Razia ini dilakukan pada Rabu (8/5/2013) mulai pukul 10.30 dengan melibatkan 250 personel Satpol PP dengan sembilan truk besar dan dibantu aparat kepolisian dan TNI. Razia bertujuan menciptakan rasa nyaman dan aman bagi pengunjung Monas, sekaligus memperindah kota tanpa adanya PKL dan gelandangan yang kerap bermalam di Monas.
Penolakan oleh para pedagang terjadi saat petugas Satpol PP mulai melakukan razia di dalam kawasan Monas. Satpol PP mengangkut gerobak-gerobak dan sejumlah alat-alat untuk berdagang. Tak terima dengan tindakan yang dilakukan petugas, sejumlah pedagang sempat mengajukan protes, tetapi dapat dilerai oleh petugas kepolisian dan TNI yang berada di Monas.
Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Yadi Rusmayadi mengatakan, razia dilakukan untuk menindaklanjuti banyaknya pengaduan masyarakat tentang keberadaan pedagang serta gelandangan yang masih berkeliaran di kawasan Monas. "Sebelumnya, kami sudah melakukan tindak persuasif sebelum razia ini," ujar Yadi, Rabu.
Razia ini dimulai dari pembongkaran lapak-lapak PKL di kawasan IRTI. Para gelandangan yang terjaring razia akan diserahkan ke panti sosial untuk mendapat pembinaan. Sementara itu, puluhan gerobak akan ditaruh di gudang di Cakung, Jakarta Timur.

Ulasan :
Kota dan tempat wisata akan terasa indah apabila dirawat dengan baik. Khususnya Jakarta, kota ini ibukota Indonesia yang menjadi ikon negara kita sendiri. Di Jakarta, kita mempunyai Monas (Monumen Nasional) yang berdiri tinggi dan kokoh. Namun, apakah indah jika tempat wisata ini terdapat banyak gelandangan dan Pedagan Kaki Lima (PKL)? Bagaimana bisa petugas pemerintah lengah dalam hal ini? Dimana letak tanggung jawab pemerintah?? Padahal, Monas merupakan ikon Jakarta yang, setidaknya, pernah dikunjungi wisatawan asing. Hal ini tentu memunculkan komentar negatif terhadap negara kita.

Maraknya gelandangan dan PKL pun tidak terlepas dari kesalahan pemerintah. Minimnya ekonomi dan pendidikan menjadi faktor utamanya. Alangkah baiknya jika Menko Kesra menyediakan tempat khusus berjualan bagi para PKLdengan biaya yang murah dan tempat yang tertata dengan baik. Adapun saran dari saya, agar ketika para gelandangan di razia, setelah itu diberi tempat tinggal yang layak dan diberi pekerjaan yang mampu mereka kerjakan.

Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/08/22544187/Puluhan.PKL.dan.Gelandangan.Terjaring.Razia.di.Monas

Minggu, 28 April 2013

Manusia dan Keadilan


Manusia dan Keadilan
Setiap kehidupan manusia dalam melakukan aktivitas nya pasti pernah mengalami perlakuan yang tidak adil. Jarang sekali kita mengalami perlakuan yg adil dari setiap aktivitas yang kita lakukan. Dimana setiap diri manusia pasti terdapat suatu dorongan atau keinginan untuk berbuat jujur namun terkadang untuk melakukan kejujuran itu sangatlah sulit dan banyak kendala nya yang harus di hadapi, seperti keadaan atau situasi, permasalahan teknis hingga bahkan sikap moral.
Dampak positif dari keadilan itu sendiri dapat menghasilkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi, karena ketika seseorang mendapat perlakuan yang tidak adil maka orang tersebut akan mencoba untuk bertanya atau melalukan perlawanan “protes” dengan caranya sendiri. Dan dengan cara itulah yang dapat menghasilkan kreatifitas dan seni tingkat tinggi seperti demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apapun hingga bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan.
Arti dari keadilan itu sendiri adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori nya, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang sangat besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai. “Kita tidak hidup di dunia yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan kewajibannya. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

Adapun macam-macam keadilan sebagai berikut :
1.  Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya.Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (the man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat.
Dan Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak keserasian.

2. Keadilan Distributif
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).

3. Kadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
4. Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Sikap jujur itu perlu di pelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberanian dan ketentraman hati, serta menyucikan lagi pula membuat luhurnya budi pekerti.
Pada hakekatnya jujur atau kejujuran di landasi oleh kesadaran moral yang tinggi kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.
Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita melihat diri kita sendiri berhadapan dengan hal yang baik dan buruk.

Kejujuran besangkut erat dengan masalah hati nurani. Menurut M.Alamsyah dalam bukunya budi nurani dan filsafat berfikir, yang disebut nurani adalah sebuah wadah yang ada dalam perasaan manusia. Wadah ini menyimpan suatu getaran kejujuran, ketulusan dalam meneropong kebenaran local maupan kebenaran illahi (M.Alamsyah,1986 :83). Nurani yang di perkembangkan dapat jadi budi nurani yang merupakan wadah yang menyimpan keyakinan. Kejujuran ataupun ketulusan dapat di tingkatkan menjadi sebuah keyakinan atas diri keyakinannya maka seseorang di ketahui kepribadianya.

Dan hati nurani bertindak sesuai dengan norma-norma kebenaran akan menjadikan manusianya memiliki kejujuran, ia akan menjadi manusia jujur. Sebaliknya orang yang secara terus-menerus berfikir atau bertindak bertentangan dengan hati nuraninya akan selalu mengalami konfik batin, ia akan selalu mengalami ketegangan, dan sifatnya kepribadiannya yang semestinya tunggal menjadi pecah. Untuk mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap yang perlu di pupuk. Namun demi sopan santun dan pendidikan, orang di perbolehkan berkata tidak jujur apabila sampai batas-batas yang di tentukan.

Kecurangan identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik meskipuntidak serupa benar. Kecurangan adalah apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nurani nya atau orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan tanpa adanya usaha. Yang dimaksud dengan keuntungan adalah keuntungan yang berupa materi. Mereka yang berbuat curang menganggap akan mendatangkan kesenangan atau kenikmatan, meskipun orang lain menderita karena nya. Kecurangan juga menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Orang seperti itu biasa nya tidak senang bila ada orang yang melebihi kekayaannya, padahal agama apapun tidak membenarkan orang yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain dan lebih lagi mengumpulkan harta dengan jalan yang curang. Hal semacam itu dalam istilah agama tidak akan di ridhoi oleh allah dan akan mendapatkan dosa yang setimpal.

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang atau tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Ada peribahasa yang berbunyi “daripada berputih mata lebih baik berputih tulang” artinya orang lebih baik mati dari pada malu. Betapa besar nilai nama baik itu sehingga nyawa menjadi taruhannya. Setiap orang tua selalu berpesan kepada anak-anaknya “jagalah nama keluargamu!” Dengan menyebut “nama” berarti sudah mengandung arti “nama baik”. Ada pula pesan orang tua “jangan membuat malu” pesan itu juga berarti menjaga nama baik. Orang tua yang menghadapi anaknya yang sudah dewasa sering kali berpesan “laksanakan apa yang kamu anggap baik, dan jangan kamu laksanakan apa yang kamu anggap tidak baik!”. Dengan melaksanakan apa yang dianggap baik berarti pula menjaga nama baik dirinya sendiri, yang berarti menjaga nama baik keluarga juga.

Penjagaan nama baik sangat erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah dari tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.


OPINI : Setiap manusia harus adil satu dengan yang lainnya jangan hanya memikirkan egoisnya sendiri. kita diwajibkan untuk saling membantu dan adil. Keadilan sangat di perlukan dan dibutuhkan namun keadilan sekarang tidak berlaku lagi karena siapa yang kuat itu yang menang. Keadilan cuma hanya formalitas yang ada di negara kita buktinya keadilan itu sendiri bisa di beli, rakyat yang kecil selalu di tindas dengan rasa tidak keadilan. Dimana letak dari keadilan itu kalau pemerintah sendiri tidak pernah adil. Seharusnya mereka yang jadi pemimpin bangsa harus adil jangan hanya pandang bulu. Rakyat kecil mengharapkan sebuah keadilan dari negara. Siapa yang salah harus dihukum dan yang benar harus dibebaskan. Keadilan juga harus lebih di tegakkan jangan cuma karena di beri duit jadi keadilan yang sesungguhnya tidak seperti kenyataannya. Keadilan sangat diharapkan dan perlu penegasan dalam melakukannya.

Sumber :
http://arfanart.wordpress.com/2012/06/13/manusia-dan-keadilan/

Sosialita

TEMPO.CO, Jakarta - Namanya Dewi Ivo. Sebagai sosialita, tampil jelita sudah menjadi kewajiban. Ketika menemui Tempo di apartemennya di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Dewi Ivo tampil berkelas dengan make up tipis dan rambut diblow rapi, serta blazer kain ikat yang dipadu celana denim.

Tapi jangan terkecoh, penampilan cantiknya ini baru satu sisi diri Dewi. “Dewi ini mau turun ke perkampungan pemulung dengan sandal jepit,” kata Ina Madjihan, rekan Dewi yang juga merupakan penggagas Gerakan Berbagi, Jumat, 19 April 2013.

Dewi bergabung dengan Gerakan Berbagi sudah 1,5 tahun yang lalu. Lewat foto kegiatan dokumentasi Gerakan Berbagi, Dewi memang tampil jauh berbeda. Dengan kaos T-shirt dan rambut dikuncir ke belakang, ia tampak sederhana. “Ya seperti bunglon, kita harus menyesuaikan diri di dunia yang berbeda,” kata Dewi.

Sebelum bergabung dengan Gerakan Berbagi, Dewi, perempuan 36 tahun ini memang kerap menyalurkan aksi sosialnya secara individual, lewat ajakan temannya. Sejak tahun 2008 misalnya, ia kerap melakukan kunjungan ke anak jalanan dan rumah sakit, memberikan bantuan untuk penderita kurang gizi, tumor, hingga anak tanpa lubang anus. “Hari pertama-kedua, saya menangis sesenggukan sampai harus keluar ruangan karena nggak tega melihatnya,” kata Dewi menceritakan salah satu pengalamannya.

Awal mula Dewi bergabung dengan Gerakan Berbagi lantaran ajakan Ina, teman semasa kuliahnya. Ina mengajak Dewi ikut menyumbang dalam kegiatan Gerakan Berbagi, yaitu aksi rutin tiap Jumat menyumbang nasi bungkus untuk anak yatim dan anak terlantar, juga pengadaan sepeda untuk distribusi bantuan korban bencana Mentawai. Merasa sejalan dengan Gerakan Berbagi yang memiliki program kerja yang jelas, Dewi akhirnya bergabung sebagai Penasehat ketika gerakan ini akhirnya berbadan hukum.

Gerakan Berbagi memiliki kegiatan yang terbagi dalam empat fokus, yakni pendidikan, kesehatan, pangan, dan tanggap darurat. Kegiatannya bermacam-macam, seperti memberi beasiswa pendidikan, bantuan untuk pasien tak mampu, pendampingan dan edukasi pada pasien dan penderita kanker, hingga menanggung biaya check up rutin 70 donor aferensis yang dinaunginya.

Adapun kegiatan rutin memberikan nasi bungkus tiap hari Jumat sampai kini masih dijadikan tradisi dan dinamakan Jumat Berbagi. Selengkapnya baca Gemerlapnya Dunia Sosialita.


Ulasan :
Manusia berpandangan bahwa orang dengan rezeki lebih biasanya hidup mewah dan sombong. Pandangan tersebut sepertinya ditujukan pada soialita orang Indonesia. Padahal, sosialita di luar negeri kebanyakan, lebih tertuju pada pendidikan, charity/donasi acara baksos. 

Lain lagi dengan Dewi Ivo, wanita cantik yang tidak malu-malu turun ke tempat-tempat kumuh untuk memberikan santunan. Dalam hal ini saya tidak mengatakan bahwa tidak ada sosialita yang tidak peduli dengan kaum menengah kebawah, tetapi ada beberapa soialita yang masih  peduli dengan kaum-kaum ini. Oleh karena itu, ubahlah pandangan kita mengenai sosialita yang tidak peduli dengan kaum bawah. Like people say, "Don't judge a book by its cover".
Sumber :
http://www.tempo.co/read/news/2013/04/28/219476349/Sosialita-yang-Bergaul-dengan-Pemulung