Just found my collection of "Love" photos. These pictures were naturally taken so I didn't make them.
Jumat, 30 Agustus 2013
Selasa, 02 Juli 2013
Harapan Untuk Melestarikan Bahasa Daerah
SEMARANG, KOMPAS.com - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan pelestarian bahasa daerah bergantung pada peran masing-masing pemerintah daerah (Pemda).
"Lewat kurikulum baru, pengembangan bahasa daerah kan diserahkan pemda setempat yang lebih tahu dan paham," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof Mahsun di Semarang, Selasa (2/7/2013).
Hal itu diungkapkannya usai seminar internasional bertema "Language Maintenance and Shift III" yang diprakarsai Program Magister Linguistik Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Balai Bahasa, Jawa Tengah.
Menurut dia, kurikulum baru tidak menghilangkan bahasa daerah dalam pembelajaran, tetapi justru diapresiasi melalui peran pemda dalam mengembangkannya sesuai kondisi lokal yang dimiliki daerah setempat.
"Sekarang, yang paling tahu kondisi lokal kan pemda setempat. Mereka bisa bekerja sama dengan Balai Bahasa yang ada di daerahnya dalam mengembangkan bahasa daerah," kata anggota tim penyusun kurikulum 2013 itu.
Ia menjelaskan, bahasa daerah tetap dimasukkan dalam kurikulum baru sebagai muatan lokal sehingga pemda harus menyusun langkah-langkah untuk mengembangkannya, seperti menetapkan standar yang akan diajarkan.
Bahasa daerah, kata dia, selama ini memiliki banyak dialek yang berbeda, seperti bahasa Jawa yang dituturkan masyarakat satu daerah dialeknya berbeda dengan daerah lain meski secara umum sebenarnya hampir sama.
"Di sinilah pentingnya pemilihan standar bahasa daerah. Standar bahasa Jawa seperti apa yang akan diajarkan, misalnya. Ini penting karena ada banyak dialek. Kemudian, bisa dituangkan dalam peraturan daerah," katanya.
Mahsun mengungkapkan, bahasa daerah menjadi penanda penting atas karakteristik masing-masing etnis dalam kemajemukan masyarakat Indonesia yang menjadi sarana transmisi budaya antargenerasi suatu kelompok.
"Bahasa kan menjadi sarana komunikasi yang dihasilkan dari olah pikir masyarakat. Keberadaan setiap etnis kan tidak lepas dari kehadiran bahasa lokal yang menjadi penanda yang membedakan satu sama lain," katanya.
Karena itu, kata dia, pelestarian bahasa daerah atau lokal sangat penting agar tidak punah, sebab bahasa memainkan peran yang sangat besar dalam kehidupan sehingga tidak boleh jika kemudian sampai hilang.
"Bahasa daerah di Indonesia kan banyak yang sudah punah, ada pula yang hanya tinggal satu orang penuturnya. Setidaknya ada dua penutur, kalau tinggal satu mau dengan siapa kemudian berkomunikasi," kata Mahsun.
Ulasan :
Kondisi bahasa daerah yang semakin terpinggirkan biasanya menjangkiti mereka yang dikategorikan sebagai golongan remaja atau kaum muda. Masa krusial pada aspek daur hidup manusia adalah masa remaja. Usia remaja sangat rentan oleh pengaruh dari dunia luar karena pada usia itu terjadi proses pencarian jati diri. Pada sisi bahasa, remaja menjadi komunitas yang memiliki kecenderungan untuk berubah. Perubahan tersebut seperti tercerabut dari akar bahasanya sendiri. Tidak jarang di perkotaan terjadi fenomena bahwa kaum remaja tidak menguasai lagi bahasa daerahnya, apalagi dengan maraknya apa yang kita kenal dengan bahasa gaul.
Kita lihat saja salah satu contohnya, yaitu ketika pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Kebanyakan, baik SD sampai SMA, rata-rata nilai Bahasa Indonesia tidak memenuhi standar kelulusan yang dipersyaratkan. Dalam konteks itu, ada apa sebenarnya dengan pendidikan bahasa Indonesia di Indonesia? Apakah karena anggapan sepele terhadap bahasa kita sendiri? Apakah tidak ada yang sinkron antara materi pelajaran Bahasa Indonesia di bangku sekolah dan soal UN? Sangat kompleks ketika kita akan mencari tahu jawaban atas semua pertanyaan itu. Oleh karena itu, sudah saatnya para pemangku kepentingan di bidang kebahasaan ini secara ikhlas melakukan upaya pelestarian dengan kapasitas dan peran masing-masing.
Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2013/07/02/2226469/Pelestarian.Bahasa.Daerah.Tergantung.Pemda
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id
"Lewat kurikulum baru, pengembangan bahasa daerah kan diserahkan pemda setempat yang lebih tahu dan paham," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof Mahsun di Semarang, Selasa (2/7/2013).
Hal itu diungkapkannya usai seminar internasional bertema "Language Maintenance and Shift III" yang diprakarsai Program Magister Linguistik Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Balai Bahasa, Jawa Tengah.
Menurut dia, kurikulum baru tidak menghilangkan bahasa daerah dalam pembelajaran, tetapi justru diapresiasi melalui peran pemda dalam mengembangkannya sesuai kondisi lokal yang dimiliki daerah setempat.
"Sekarang, yang paling tahu kondisi lokal kan pemda setempat. Mereka bisa bekerja sama dengan Balai Bahasa yang ada di daerahnya dalam mengembangkan bahasa daerah," kata anggota tim penyusun kurikulum 2013 itu.
Ia menjelaskan, bahasa daerah tetap dimasukkan dalam kurikulum baru sebagai muatan lokal sehingga pemda harus menyusun langkah-langkah untuk mengembangkannya, seperti menetapkan standar yang akan diajarkan.
Bahasa daerah, kata dia, selama ini memiliki banyak dialek yang berbeda, seperti bahasa Jawa yang dituturkan masyarakat satu daerah dialeknya berbeda dengan daerah lain meski secara umum sebenarnya hampir sama.
"Di sinilah pentingnya pemilihan standar bahasa daerah. Standar bahasa Jawa seperti apa yang akan diajarkan, misalnya. Ini penting karena ada banyak dialek. Kemudian, bisa dituangkan dalam peraturan daerah," katanya.
Mahsun mengungkapkan, bahasa daerah menjadi penanda penting atas karakteristik masing-masing etnis dalam kemajemukan masyarakat Indonesia yang menjadi sarana transmisi budaya antargenerasi suatu kelompok.
"Bahasa kan menjadi sarana komunikasi yang dihasilkan dari olah pikir masyarakat. Keberadaan setiap etnis kan tidak lepas dari kehadiran bahasa lokal yang menjadi penanda yang membedakan satu sama lain," katanya.
Karena itu, kata dia, pelestarian bahasa daerah atau lokal sangat penting agar tidak punah, sebab bahasa memainkan peran yang sangat besar dalam kehidupan sehingga tidak boleh jika kemudian sampai hilang.
"Bahasa daerah di Indonesia kan banyak yang sudah punah, ada pula yang hanya tinggal satu orang penuturnya. Setidaknya ada dua penutur, kalau tinggal satu mau dengan siapa kemudian berkomunikasi," kata Mahsun.
Ulasan :
Kondisi bahasa daerah yang semakin terpinggirkan biasanya menjangkiti mereka yang dikategorikan sebagai golongan remaja atau kaum muda. Masa krusial pada aspek daur hidup manusia adalah masa remaja. Usia remaja sangat rentan oleh pengaruh dari dunia luar karena pada usia itu terjadi proses pencarian jati diri. Pada sisi bahasa, remaja menjadi komunitas yang memiliki kecenderungan untuk berubah. Perubahan tersebut seperti tercerabut dari akar bahasanya sendiri. Tidak jarang di perkotaan terjadi fenomena bahwa kaum remaja tidak menguasai lagi bahasa daerahnya, apalagi dengan maraknya apa yang kita kenal dengan bahasa gaul.
Kita lihat saja salah satu contohnya, yaitu ketika pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Kebanyakan, baik SD sampai SMA, rata-rata nilai Bahasa Indonesia tidak memenuhi standar kelulusan yang dipersyaratkan. Dalam konteks itu, ada apa sebenarnya dengan pendidikan bahasa Indonesia di Indonesia? Apakah karena anggapan sepele terhadap bahasa kita sendiri? Apakah tidak ada yang sinkron antara materi pelajaran Bahasa Indonesia di bangku sekolah dan soal UN? Sangat kompleks ketika kita akan mencari tahu jawaban atas semua pertanyaan itu. Oleh karena itu, sudah saatnya para pemangku kepentingan di bidang kebahasaan ini secara ikhlas melakukan upaya pelestarian dengan kapasitas dan peran masing-masing.
Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2013/07/02/2226469/Pelestarian.Bahasa.Daerah.Tergantung.Pemda
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id
Senin, 10 Juni 2013
Kesel itu.....
....ketika ada acara keluarga di teras rumah tau2 ada bocah yg ngamen padahal itu malem sekali
....ketika ada yg manjat pohon buah lo, terus pas turun tau2 ngomong "makasih ya bu" padahal dia ga ijin dan ga menghormati lo sbg yg punya
....ketika rumah ada di ujung gang, pas ngecat tembok yg ujung luar tau2 beberapa hari kemudian udah di isi SAMPAH tulisan ga penting. mending kalo dia bikin mural, lah ini tulisan2 graviti yg JELEK bgt dan modal warnanya biru/hitam aja
....ketika ada pengamen yg marah2 sampe ngatain karna ga dikasih duit
....ketika ada pengamen tampang preman. bawannya parno mulu takut ditodong
....ketika orang seperti saya sok2 ngomel padahal diri sendiri jg blm tntu bener
....tau kalo hidup itu KERAS! makanya
Senin, 03 Juni 2013
Gelisah
Apa itu gelisah? Gelisah adalah persaan yang membuat manusia selalu khawatir.
Ada beberapa macam kegelisahaan :
1. Kegelisahan Negatif
Kegelisahan negatif adalah kegelisahan yang memunculkan pikiran-pikiran yang melewati batas. Apa contoh kegelisahan negatif? Misalnya Anda, atau siapa saja, tidak sengaja menabrak orang di jalan dan tanpa disadari tabrakan itu membuat korban luka atau pingsan. Situasi sekitar juga sangat sepi. Di dalam benak Anda mungkin saja muncul pemikiran-pemikiran negatif, seperti meninggalkan korban begitu saja tanpa menolong.
Lalu bagaimana mengatasi kegelisahan negatif ini? Lebih baik Anda diam sejenak agar pikiran tenang, karena dengan pikiran yang tenang akan menghasilkan ide yang baik dan jernih.
2. Kegelisahan Positif
Kegelisahan positif merupakan kegelisahan yang membuat sesorang bersemangat. Misalnya saja ketika Anda di kantor/sekolah/kampus tidak mendapat penghargaan/nilai yang lebih tinggi dari teman partner Anda. Lalu Anda menjadi gelisah dan takut tidak bisa bersaing dengannya. Oleh karena itu Anda berpikir bagaimana bisa seperti teman partner Anda.
Bantuan :
http://fikriaulia03.blogspot.com/2010/06/manusia-dan-kegelisahan.html
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
Ada beberapa macam kegelisahaan :
1. Kegelisahan Negatif
Kegelisahan negatif adalah kegelisahan yang memunculkan pikiran-pikiran yang melewati batas. Apa contoh kegelisahan negatif? Misalnya Anda, atau siapa saja, tidak sengaja menabrak orang di jalan dan tanpa disadari tabrakan itu membuat korban luka atau pingsan. Situasi sekitar juga sangat sepi. Di dalam benak Anda mungkin saja muncul pemikiran-pemikiran negatif, seperti meninggalkan korban begitu saja tanpa menolong.
Lalu bagaimana mengatasi kegelisahan negatif ini? Lebih baik Anda diam sejenak agar pikiran tenang, karena dengan pikiran yang tenang akan menghasilkan ide yang baik dan jernih.
2. Kegelisahan Positif
Kegelisahan positif merupakan kegelisahan yang membuat sesorang bersemangat. Misalnya saja ketika Anda di kantor/sekolah/kampus tidak mendapat penghargaan/nilai yang lebih tinggi dari teman partner Anda. Lalu Anda menjadi gelisah dan takut tidak bisa bersaing dengannya. Oleh karena itu Anda berpikir bagaimana bisa seperti teman partner Anda.
Bantuan :
http://fikriaulia03.blogspot.com/2010/06/manusia-dan-kegelisahan.html
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
Sabtu, 01 Juni 2013
Kok Aneh?
MERDEKA.COM. Kesedihan sempat mewarnai wajah Gita Saraswati (17), siswi SMA Negeri 15 Sunggal Medan setelah dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN). Gita dinyatakan tidak lulus karena nilai ujian Bahasa Indonesia-nya hanya 0,82.
Gita lalu protes ke sekolahnya dan dinas pendidikan. Ia protes karena yakin bisa mengerjakan soal UN Bahasa Indonesia dengan mudah. Di sekolah, nilai Bahasa Indonesia Gita rata-rata 8.
"Gita tidak bisa terima. Gita yakin bisa jawab soalnya. Minimal 20 soal saya bisa jawab, apalagi itu kan mata ujian hari pertama, boleh tanya orangtua, saat itu Gita benar-benar fokus belajar. Kok nilainya cuma 0,82," kata Gita, siswi SMA Negeri 15 ini, Rabu (29/5) lalu.
Gita lalu protes ke sekolahnya dan dinas pendidikan. Ia protes karena yakin bisa mengerjakan soal UN Bahasa Indonesia dengan mudah. Di sekolah, nilai Bahasa Indonesia Gita rata-rata 8.
"Gita tidak bisa terima. Gita yakin bisa jawab soalnya. Minimal 20 soal saya bisa jawab, apalagi itu kan mata ujian hari pertama, boleh tanya orangtua, saat itu Gita benar-benar fokus belajar. Kok nilainya cuma 0,82," kata Gita, siswi SMA Negeri 15 ini, Rabu (29/5) lalu.
Sehari setelah Gita berbicara ke publik, perjuangan Gita membuahkan hasil. Bim salabim, tiba-tiba dari pihak sekolah mendapat informasi bahwa Gita lulus ujian.
Ternyata, nilai Bahasa Indonesia Gita tidak 0,82 tapi 7,8. Karena ada perubahan nilai, Gita akhirnya dinyatakan lulus.
Kepala SMAN 15 Medan, Darwin Siregar mengaku tak tahu bagaimana nilai bahasa Indonesia Gita Saraswati bisa salah. Darwin juga tidak bisa menjelaskan kronologi terjadinya kesalahan pada penilaian lembar jawaban ujian Bahasa Indonesia Gita.
"Bukan domain saya menjawab itu, melainkan panitia UN," jelasnya kepada merdeka.com, Kamis (30/5).
Tidak hanya Darwin, Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Sumut Yusri dan Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Medan Marasutan Siregar mengaku tidak mengetahui persoalan itu.
"Saya belum mendapat laporan. Saya baru tahu dari Anda," ucap Yusri saat dihubungi merdeka.com, Kamis (30/5).
Ketidaktahuan ini juga disampaikan Marasutan Siregar. Seperti Yusri, dia juga sempat bertanya tentang kasus yang menimpa Gita Saraswati. "Yang mana? Oh kalau soal hasil itu ke Unimed (Universitas Negeri Medan)," katanya.
Kalau semua tidak tahu begini, lantas siapa yang harus bertanggung jawab?
Ternyata, nilai Bahasa Indonesia Gita tidak 0,82 tapi 7,8. Karena ada perubahan nilai, Gita akhirnya dinyatakan lulus.
Kepala SMAN 15 Medan, Darwin Siregar mengaku tak tahu bagaimana nilai bahasa Indonesia Gita Saraswati bisa salah. Darwin juga tidak bisa menjelaskan kronologi terjadinya kesalahan pada penilaian lembar jawaban ujian Bahasa Indonesia Gita.
"Bukan domain saya menjawab itu, melainkan panitia UN," jelasnya kepada merdeka.com, Kamis (30/5).
Tidak hanya Darwin, Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Sumut Yusri dan Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Medan Marasutan Siregar mengaku tidak mengetahui persoalan itu.
"Saya belum mendapat laporan. Saya baru tahu dari Anda," ucap Yusri saat dihubungi merdeka.com, Kamis (30/5).
Ketidaktahuan ini juga disampaikan Marasutan Siregar. Seperti Yusri, dia juga sempat bertanya tentang kasus yang menimpa Gita Saraswati. "Yang mana? Oh kalau soal hasil itu ke Unimed (Universitas Negeri Medan)," katanya.
Kalau semua tidak tahu begini, lantas siapa yang harus bertanggung jawab?
Ulasan :
Tepat tanggal 24 Mei lalu, semua siswa/i SMA di seluruh Indonesia menerima hasil kelulusan atas Ujian Nasional. Persentase kelulusan diperkirakan hingga 99,48%.Hal ini cukup bagus walaupun ada beberapa siswa yang tidak lulus.
Ada contoh kasus yang lucu (?) menurut saya. Salah satunya kasus Gita Saraswati di Medan. Tidak menutup kemungkinan dia tidak lulus tahun ini, namun yang mengherankan kenapa bisa nilai 0,82 berubah menjadi 7,8? Dimana letak kesalahannya? Kenapa hal begini saja bisa begitu ceroboh? Hal ceroboh sedikit saja pada hal ini, baik kualitas kertas ataupun pengecekan nilai, dapat mengakibatkan ketidaklulusan bagi siswa. Dan ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab, malah lempar sana-sini. Dimana letak pertanggungjawaban para pelaksana UN?
Sumber :
http://id.berita.yahoo.com/misteri-tersulapnya-nilai-un-gita-saraswati-dari-7-002200423.html
Senin, 13 Mei 2013
Kegelisahan Warga Sidoarjo
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum KPU Sidoarjo, tercatat ada lebih dari 66 ribu warga korban lumpur yanag akan kehilangan hak suara karena kesulitan mendata kembali korban lumpur Lapindo yang sudah tersebar dibeberapa wilayah.
Ketua KPU Sidoarjo Bhima Ariesdiyanto menegaskan, lebih dari 66 ribu warga korban lumpur lapindo asal 11 desa di kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon dipastikan akan kehilangan hak suara dalam Pemilihan Umum 2014 dan Pilgub Jatim Agustus 2013 mendatang.
"KPU Sidoarjoko kesulitan melakukan verifikasi dan administrasi mereka. Padahal hasil verifikasi warga korban lumpur tersebut diperlukan untuk daftar pemilih pemilu 2014 mendatang," katan Bhima di kantornya, Rabu (13/3/2013).
Menurut data di KPU Sidoarjo, jumlah warga di sebelas desa areal berdampak lumpur Lapindo, saat Pemilu 2009 lalu mencapai 66.349 orang. Mereka berada di tiga wilayah kecamatan, masing-masing Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon.
Tahun ini ternyata jumlah warga di sebelas desa areal terdampak lumpur Lapindo tidak terlalu berbeda dengan tahun 2009. Padahal sebagian besar warga sudah pindah tempat tinggal di desa atau kecamatan lain.
"Warga korban lapindo tidak mungkin kembali ke desanya karena wilayah mereka hilang ditenggelamkan lumpur. Celakanya data kependudukan mereka masih tercatat di wilayah yang sudah dilenyapkan lumpur itu," katanya.
Seharusnya secara adminstratif faktual, warga korban lumpur yang pindah tempat tinggal sudah tercatat sebagai penduduk di wilayah barunya. Kondisi ini kemudian menimbulkan persoalan KPU dalam menetapkan daftar pemilih tetap.
Ulasan :
Mulai 16 April tahun lalu, lebih dari 2.000 orang secara bergantian memblokade tanggul lumpur di titik 25, Porong, Sidoarjo. Meski terhitung menjadi korban pertama yang terusir dari kampung halaman sejak 2006, hingga kini proses ganti ruginya belum tuntas. Padahal, proses ganti rugi kepada rekan-rekan mereka yang kampungnya tenggelam belakangan malah sudah banyak yang beres. Namun sekarang, lumpur sudah hampir mencapai batas tanggul yang dibuat. Hal ini tentu saja menimbulkan keresahan bagi warga sekitar dan juga warga Indonesia. Sampai sekarang masalah lumpur ini belum terselesaikan walau sudah terjadi selama lebih kurang 6 tahun.
Apakah yang harus kita lakukan? Akankah pulau Jawa kita akan tenggelam? Kita berharap akan mendapat pemimpin yang mampu mengatasi permasalahan ini kedepannya. Dan dengan adanya lumpur ini, semoga menjadi berkah dan pelajaran bagi negara kita. Mungkin suatu saat ada manfaat yang bisa dihasilkan dari lumpur yang diolah oleh bangsa kita.
Sumber :
http://daerah.sindonews.com/read/2013/03/13/28/726724/66-ribu-korban-lumpur-lapindo-kehilangan-hak-suara
Rabu, 08 Mei 2013
Razia
JAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia terhadap para pedagang kaki lima dan gelandangan di kawasan Monumen Nasional (Monas). Sebanyak 40 gerobak PKL dan 17 orang gelandangan terjaring dalam razia ini.
Razia ini dilakukan pada Rabu (8/5/2013) mulai pukul 10.30 dengan melibatkan 250 personel Satpol PP dengan sembilan truk besar dan dibantu aparat kepolisian dan TNI. Razia bertujuan menciptakan rasa nyaman dan aman bagi pengunjung Monas, sekaligus memperindah kota tanpa adanya PKL dan gelandangan yang kerap bermalam di Monas.
Penolakan oleh para pedagang terjadi saat petugas Satpol PP mulai melakukan razia di dalam kawasan Monas. Satpol PP mengangkut gerobak-gerobak dan sejumlah alat-alat untuk berdagang. Tak terima dengan tindakan yang dilakukan petugas, sejumlah pedagang sempat mengajukan protes, tetapi dapat dilerai oleh petugas kepolisian dan TNI yang berada di Monas.
Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Yadi Rusmayadi mengatakan, razia dilakukan untuk menindaklanjuti banyaknya pengaduan masyarakat tentang keberadaan pedagang serta gelandangan yang masih berkeliaran di kawasan Monas. "Sebelumnya, kami sudah melakukan tindak persuasif sebelum razia ini," ujar Yadi, Rabu.
Razia ini dimulai dari pembongkaran lapak-lapak PKL di kawasan IRTI. Para gelandangan yang terjaring razia akan diserahkan ke panti sosial untuk mendapat pembinaan. Sementara itu, puluhan gerobak akan ditaruh di gudang di Cakung, Jakarta Timur.
Ulasan :
Kota dan tempat wisata akan terasa indah apabila dirawat dengan baik. Khususnya Jakarta, kota ini ibukota Indonesia yang menjadi ikon negara kita sendiri. Di Jakarta, kita mempunyai Monas (Monumen Nasional) yang berdiri tinggi dan kokoh. Namun, apakah indah jika tempat wisata ini terdapat banyak gelandangan dan Pedagan Kaki Lima (PKL)? Bagaimana bisa petugas pemerintah lengah dalam hal ini? Dimana letak tanggung jawab pemerintah?? Padahal, Monas merupakan ikon Jakarta yang, setidaknya, pernah dikunjungi wisatawan asing. Hal ini tentu memunculkan komentar negatif terhadap negara kita.
Maraknya gelandangan dan PKL pun tidak terlepas dari kesalahan pemerintah. Minimnya ekonomi dan pendidikan menjadi faktor utamanya. Alangkah baiknya jika Menko Kesra menyediakan tempat khusus berjualan bagi para PKLdengan biaya yang murah dan tempat yang tertata dengan baik. Adapun saran dari saya, agar ketika para gelandangan di razia, setelah itu diberi tempat tinggal yang layak dan diberi pekerjaan yang mampu mereka kerjakan.
Maraknya gelandangan dan PKL pun tidak terlepas dari kesalahan pemerintah. Minimnya ekonomi dan pendidikan menjadi faktor utamanya. Alangkah baiknya jika Menko Kesra menyediakan tempat khusus berjualan bagi para PKLdengan biaya yang murah dan tempat yang tertata dengan baik. Adapun saran dari saya, agar ketika para gelandangan di razia, setelah itu diberi tempat tinggal yang layak dan diberi pekerjaan yang mampu mereka kerjakan.
Sumber :
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/08/22544187/Puluhan.PKL.dan.Gelandangan.Terjaring.Razia.di.Monas
Langganan:
Postingan (Atom)





